TVRINews, Surabaya
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan LXVI di Gedung Negara Grahadi, Surabaya.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI ini merupakan bagian dari proses pembelajaran strategis untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan para pejabat pimpinan tinggi di kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.
Melalui kunjungan tersebut, para peserta memperoleh pembelajaran langsung mengenai praktik kepemimpinan, inovasi tata kelola pemerintahan, serta penguatan kolaborasi lintas sektor sebagai bagian dari upaya mendukung pembangunan nasional.
Peserta PKN Tingkat I Angkatan LXVI berasal dari berbagai kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah, di antaranya Kejaksaan Agung, Kepolisian Republik Indonesia, Kementerian Hukum, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Ketenagakerjaan, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Arsip Nasional Republik Indonesia, Lembaga Administrasi Negara, Sekretariat Jenderal DPR RI, Pemerintah Provinsi Gorontalo, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah mendorong lahirnya pemimpin transformatif yang mampu menghadirkan perubahan melalui inovasi, kolaborasi, serta solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Didampingi Sekretaris Utama LAN RI Andi Taufik, Khofifah menegaskan peserta PKN Tingkat I merupakan calon pemimpin strategis bangsa yang kelak akan memegang tanggung jawab besar di berbagai institusi.
"Peserta PKN I Angkatan LXVI bukan sembarang orang. Ada calon jenderal, calon menteri, bahkan calon sekda. Pemimpin dituntut tidak hanya mampu menjalankan fungsi administratif, tetapi juga harus mampu menjadi agen perubahan yang menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat. Bapak-Ibu semua adalah pemimpin," ujarnya.
Menurut Khofifah, kepemimpinan saat ini tidak lagi cukup hanya mengandalkan kemampuan administratif. Seorang pemimpin juga harus mampu membangun perubahan melalui pendekatan yang inovatif, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Dalam paparannya, Khofifah mencontohkan mantan Presiden Iran Mohammad Khatami sebagai sosok pemimpin transformatif yang mampu menghadirkan perubahan melalui pendekatan persuasif dan pembangunan kesadaran masyarakat.
Ia menjelaskan, di tengah berbagai keterbatasan regulasi saat itu, Khatami memilih membangun perubahan melalui penguatan nilai-nilai keagamaan yang menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai mitra yang saling menghormati, melindungi, dan bekerja sama.
"Pada masa itu tidak ada anggota parlemen perempuan di Iran. Jadi memang harus sesuatu yang bersifat transformatif yang diinisiasi dan dieksekusi oleh kepala pemerintahan, dan itu adalah Presiden Khatami," jelasnya.
Khofifah menambahkan, Khatami melakukan transformasi pemikiran melalui diseminasi nilai-nilai Al-Qur'an, seperti hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna yang mengajarkan pentingnya saling melindungi dalam kehidupan rumah tangga, serta wa 'asyiruhunna bil ma'ruf yang menekankan perlakuan baik dan penuh penghormatan kepada perempuan.
Menurutnya, perubahan besar tidak selalu harus diawali dengan perubahan regulasi, tetapi dapat dimulai melalui perubahan cara berpikir masyarakat.
"Bagi saya beliau adalah pemimpin transformatif. Mereka yang mampu menemukan jalan perubahan di tengah keterbatasan. Ketika regulasi sulit ditembus, dibutuhkan pendekatan yang mampu membangun kesadaran dan perspektif baru di masyarakat," tegasnya.
Khofifah mengajak seluruh peserta PKN Tingkat I menjadi pemimpin yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Bapak-Ibu semua adalah pemimpin dan insyaallah akan mengemban amanah yang lebih besar setelah mengikuti PKN I ini. Bagaimana sesungguhnya hadirnya kita memberikan manfaat bagi sesama," tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah kebijakan tidak dapat dicapai secara individual, melainkan melalui kolaborasi dan kesamaan perspektif.
"Tidak ada sukses kalau kita berjalan sendiri. Kita sukses karena kita bersama-sama," katanya.
Sementara itu, Deputi Bidang Penyelenggaraan Pengembangan Kapasitas ASN LAN RI Tri Widodo Wahyu Utomo mengapresiasi komitmen Khofifah dalam mendorong pengembangan kapasitas aparatur sipil negara di Jawa Timur.
Menurutnya, kepemimpinan Khofifah menunjukkan perhatian besar terhadap peningkatan kompetensi ASN sebagai fondasi mewujudkan tata kelola pemerintahan yang profesional, adaptif, dan responsif.
"Ibu Gubernur Khofifah adalah sosok kepala daerah yang memiliki kepedulian dan komitmen luar biasa terhadap pengembangan kapasitas ASN. Beliau sadar betul bahwa kepemimpinan harus dibangun secara berkesinambungan," ujar Tri.
Ia menambahkan, komitmen tersebut tercermin dari prestasi peserta asal Jawa Timur yang kerap meraih hasil terbaik dalam penyelenggaraan PKN Tingkat I.
"Teman-teman dari Jawa Timur sering mendominasi, bahkan menjadi lima terbaik. Terima kasih atas dukungan Ibu terhadap program pengembangan kapasitas pimpinan," katanya.
Tri menilai berbagai capaian tersebut menunjukkan bahwa Jawa Timur telah menjadi laboratorium kepemimpinan yang melahirkan berbagai praktik baik dan inovasi dalam pengembangan sumber daya aparatur.










