TVRINews, Surabaya
Ikatan Perawat Dialisis Indonesia (IPDI) mendorong peningkatan kompetensi dan profesionalisme perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien penyakit ginjal kronis. Upaya tersebut menjadi salah satu fokus dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan Nasional (PITNAS) XXXIV IPDI yang diikuti 1.527 peserta dari berbagai rumah sakit daerah.
Mengusung tema “Elevating Dialysis Nursing: Integrity, Science, and Technology in Dialysis Services”, kegiatan ini menjadi wadah bagi perawat dialisis untuk memperbarui pengetahuan, berbagi pengalaman, serta mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pelayanan dialisis.
Ketua Pengurus Pusat IPDI Muhammad Syamsul Bakhri mengatakan, perawat dialisis memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan terapi pengganti ginjal, khususnya hemodialisis atau cuci darah.
Menurutnya, tugas perawat tidak hanya mencakup keterampilan teknis dalam tindakan dialisis, tetapi juga pemantauan kondisi pasien, pencegahan komplikasi, hingga memastikan standar keselamatan pasien terpenuhi.
Meningkatnya jumlah pasien yang membutuhkan hemodialisis, lanjut Syamsul, harus diimbangi dengan ketersediaan tenaga kesehatan yang kompeten dan memadai.
Ia menjelaskan, satu sesi hemodialisis dapat berlangsung sekitar lima hingga enam jam. Karena itu, pengaturan beban kerja dan rasio perawat menjadi perhatian penting untuk menjaga kualitas pelayanan.
Dalam forum tersebut, IPDI menggunakan acuan rasio satu perawat untuk tiga tindakan dalam satu sesi. Pengaturan ini diharapkan dapat menjaga efektivitas pemantauan pasien sekaligus mengurangi risiko kelelahan tenaga kesehatan.
“Fokus kami adalah bagaimana perawat dialisis tetap bisa memberikan pelayanan yang maksimal kepada pasien gagal ginjal, sehingga mereka dapat menjalani kehidupan secara optimal meskipun dalam kondisi sakit,” ujar Syamsul dikutip Minggu, 1 November 2026.
Ketua Pimpinan Wilayah IPDI Provinsi Jawa Timur M. Mariadi turut menekankan pentingnya pertemuan ilmiah sebagai sarana peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi profesional perawat.
Ia menilai, pemenuhan kebutuhan tenaga perawat perlu mempertimbangkan beban kerja, kebutuhan pelayanan kesehatan, serta perkembangan sistem pelayanan di berbagai fasilitas kesehatan.
Sementara itu, Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Nursalam menyoroti pentingnya pemberdayaan perawat dalam penanganan penyakit ginjal. Peran tersebut mencakup skrining, edukasi kesehatan, hingga pendampingan pasien yang menjalani terapi dialisis.
Perawat juga berperan membantu pasien beradaptasi dengan kondisi penyakitnya, meningkatkan kepatuhan terhadap terapi, serta mempertahankan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari.
Selain penguatan kompetensi klinis, PITNAS XXXIV IPDI turut membahas pemanfaatan teknologi dalam pelayanan dialisis. Perkembangan mesin dialisis modern, sistem pemantauan terintegrasi, dan teknologi digital menuntut perawat untuk terus memperbarui kemampuan.
Namun, penguasaan teknologi tetap harus disertai integritas dan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur. Ketepatan pengambilan keputusan serta komitmen terhadap keselamatan pasien menjadi prinsip utama dalam pelayanan keperawatan dialisis.
Salah satu peserta, Heri Prasetyaningrum dari RSUD Kabupaten Bekasi, mengapresiasi penyelenggaraan PITNAS XXXIV IPDI. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi forum pertukaran pengetahuan, tetapi juga mendorong perawat menghasilkan inovasi untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
“Pertemuan ilmiah tahunan nasional perawat dialisis satu Indonesia ini menjadi wadah bagi seluruh perawat dari berbagai rumah sakit. Kami ditantang untuk menciptakan karya ilmiah, salah satunya berupa inovasi dan perbaikan pelayanan bagi masyarakat. Salah satunya melalui lomba karya ilmiah,” ujarnya.
Heri juga menyoroti pentingnya inovasi dalam membantu pasien penyakit ginjal yang harus menjalani pengobatan secara berkelanjutan. Ia menilai, upaya mengurangi beban pengobatan masyarakat perlu terus dikembangkan melalui karya ilmiah dan perbaikan pelayanan.
Salah satu inovasi yang dikembangkannya berkaitan dengan upaya mengurangi penggunaan obat pereda nyeri melalui pendekatan terapi nonfarmakologis. Inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif pendamping penanganan pasien sekaligus membantu mengurangi beban penggunaan obat.
Ia menyebut inovasi tersebut telah meraih penghargaan di tingkat Kabupaten Bekasi setelah sebelumnya dikembangkan melalui karya ilmiah di Jawa Barat.
Heri berharap hasil inovasi itu dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsi obat tanpa memperhatikan aturan dan kebutuhan medis.
Melalui PITNAS XXXIV, IPDI berharap peningkatan kompetensi, penguatan integritas, ketersediaan tenaga perawat, serta pemanfaatan teknologi dapat berjalan beriringan. Dengan demikian, pelayanan dialisis di Indonesia semakin profesional, aman, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup pasien.









