TVRINews, Surabaya
Surabaya, kota yang menjadi saksi bisu gelora perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan, kini menjadi panggung bagi suara lain yang tak kalah penting. Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Republik Indonesia, seorang legislator dari Senayan memilih Kota Pahlawan sebagai tempat menyuarakan desakan agar negara segera menuntaskan janjinya kepada para veteran.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Bambang Haryo Soekartono, secara terbuka meminta pemerintah pusat merealisasikan sisa kenaikan tunjangan veteran sebesar 25 persen. Desakan itu ia sampaikan langsung di Surabaya pada Kamis, seolah ingin menegaskan bahwa kota ini bukan hanya tempat mengenang sejarah, tetapi juga ruang untuk menagih komitmen.
"Masih ada kekurangan kenaikan tunjangan veteran sebesar 25 persen yang saya harapkan bisa segera direalisasikan pemerintah pusat," ujar BHS, sapaan akrabnya, Kamis, 6 Agustus 2026.
Ia menekankan bahwa Surabaya memiliki tempat istimewa dalam peta perjuangan nasional. Oleh karena itu, menyuarakan aspirasi veteran dari kota ini membawa pesan moral yang lebih dalam. Menurutnya, penghormatan kepada para pejuang bangsa tidak boleh berhenti pada seremoni dan pidato kenegaraan semata.
"Seluruh elemen masyarakat, instansi pemerintah, hingga aparat negara perlu memberikan penghormatan yang layak. Perhatian terhadap para pejuang bangsa ini harus terus kita tingkatkan dari tahun ke tahun," tegasnya.
Politisi tersebut juga mengusulkan sejumlah fasilitas tambahan yang dinilai mendesak untuk direalisasikan. Di antaranya adalah layanan listrik gratis bagi veteran, perluasan kemudahan akses transportasi publik, serta pemberian prioritas pendidikan bagi anak dan cucu veteran. Usulan ini, kata BHS, merupakan bagian dari penghormatan berkelanjutan yang tidak terputus oleh waktu.
Sementara itu, Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Surabaya, Kolonel (Purn) Gitoyo, mengungkapkan bahwa setiap kali HUT Kemerdekaan mendekat, ingatan para veteran akan masa perjuangan kembali hidup. Namun lebih dari itu, ia menekankan adanya amanah yang belum sepenuhnya tertunaikan.
"Kami para veteran memiliki amanah untuk mewariskan jiwa, semangat, dan nilai-nilai kejuangan 1945 kepada generasi penerus. Ini tugas mulia yang harus terus kami emban," ujar Gitoyo.
Gitoyo menambahkan harapannya agar Surabaya sebagai Kota Pahlawan tidak hanya dikenal lewat tugu dan monumen, melainkan juga lewat perhatian nyata warganya kepada para veteran yang masih hidup. Ia percaya bahwa kota ini mampu menjadi teladan dalam menjaga semangat kepahlawanan dan menghormati jasa para pejuang bangsa.
Desakan yang bergema dari Surabaya ini menjadi pengingat bahwa Hari Kemerdekaan bukan sekadar perayaan. Di kota tempat ribuan pejuang gugur, masih ada suara yang menanti ditunaikannya janji negara.









