TVRINews, Surabaya
Kapoksi Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono (BHS), mendorong Pemerintah Kota Surabaya untuk segera melakukan pembenahan menyeluruh pada sektor pariwisata. Dorongan ini mencakup perbaikan infrastruktur fisik destinasi hingga penguatan promosi berbasis digital marketing agar mampu mendatangkan lebih banyak wisatawan domestik dan mancanegara.
Pernyataan tersebut disampaikan BHS di sela-sela kegiatan bimbingan teknis mengenai strategi pemasaran pariwisata melalui digital marketing yang berlangsung di Surabaya, Rabu. Ia menekankan bahwa pemasaran digital tidak akan efektif tanpa diimbangi kualitas destinasi yang mumpuni.
"Promosi digital penting, tetapi destinasi wisata di Surabaya juga harus dibenahi sehingga memiliki daya tarik yang kuat," tegas BHS, Kamis, 6 Agustus 2026.
BHS menilai Kota Pahlawan menyimpan potensi wisata yang belum tergarap optimal. Potensi tersebut tersebar di berbagai sektor, mulai dari wisata budaya, wisata bahari, hingga wisata kuliner khas yang sudah dikenal luas. Menurutnya, pengalaman pengunjung yang berkesan hanya bisa tercipta jika pengelolaan objek wisata dilakukan secara profesional dan berkelanjutan.
Salah satu fokus utama yang disoroti adalah kawasan Pantai Kenjeran. BHS memandang kawasan pesisir tersebut memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi destinasi unggulan. Syaratnya, penataan kawasan dan penyediaan fasilitas pendukung harus menjadi prioritas dalam waktu dekat.
Selain itu, ikon wisata Kota Surabaya, Kebun Binatang Surabaya (KBS), juga tak luput dari perhatian. Ia mendesak adanya revitalisasi serius terhadap KBS. Keberadaan koleksi satwa endemik Indonesia di kebun binatang tersebut dinilai mampu menjadi magnet kuat, terutama bagi wisatawan asing yang ingin melihat lebih dekat kekayaan fauna Nusantara.
"Kita memiliki satwa endemik yang tidak ditemukan di negara lain. Ini harus dikemas sebagai daya tarik kelas dunia," ujar BHS.
Pada sektor budaya, BHS mengusulkan agar Pemerintah Kota mengaktifkan kembali pertunjukan kesenian tradisional secara rutin. Kesenian khas seperti ludruk, ketoprak, dan Tari Remo diusulkan untuk digelar secara bergilir di tiap kecamatan. Langkah ini dinilai mampu memperkuat identitas kota sekaligus menyuguhkan atraksi budaya yang hidup bagi wisatawan.
Tak hanya infrastruktur dan budaya, BHS juga menyoroti pentingnya konektivitas transportasi umum menuju kawasan wisata serta penguatan gastro-diplomasi kuliner khas. Ia menyebut hidangan legendaris seperti rawon harus masuk dalam paket promosi wisata unggulan untuk melengkapi pengalaman berkunjung ke Surabaya.
Mengakhiri arahannya, BHS menegaskan optimisme terhadap masa depan pariwisata Surabaya. Ia berharap sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah kota, dan para pelaku industri dapat segera diwujudkan agar potensi lokal mampu bersinar di kancah nasional maupun internasional.
"Surabaya memiliki karakter yang kuat, baik dari sisi budaya, kuliner, maupun sejarah. Potensi itu perlu dikemas dan dipromosikan secara optimal agar mampu bersaing sebagai destinasi wisata unggulan di Indonesia," pungkas BHS.









