TVRINews, Lamongan
Keterbatasan lahan di wilayah perkotaan tidak menjadi penghalang bagi warga untuk tetap produktif di sektor pertanian. Hal ini dibuktikan oleh Iskandar, pemilik Perdana Farm di Desa Deketkulon, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan, yang sukses memanfaatkan atap rumah atau rooftop sebagai lahan budidaya melon hidroponik bernilai ekonomis.
Inovasi tersebut berawal dari pemanfaatan ruang kosong di bagian atas rumahnya yang memiliki luas sekitar 13 x 8 meter persegi. Sebelumnya, Iskandar telah lebih dulu mengembangkan pertanian dalam greenhouse sebelum akhirnya melihat potensi rooftop sebagai area budidaya tambahan.
“Awalnya kami sudah menanam di greenhouse. Karena ada rooftop yang belum termanfaatkan, saya coba gunakan untuk budidaya melon,” ujar Iskandar, Minggu (21/6/2026).
Pada musim tanam pertama, Iskandar sempat menanam melon varietas premium jenis Adinda. Namun, hasil belum optimal akibat faktor cuaca terbuka di area rooftop serta serangan hama. Dari panen perdana tersebut, ia memperoleh omzet sekitar Rp3 juta.
Setelah melakukan evaluasi, pada musim tanam berikutnya ia beralih menggunakan varietas melon lokal yang dinilai lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan. Beberapa varietas yang ditanam antara lain Gracia, New Cheria, dan Nobel dengan masa panen sekitar 60 hingga 65 hari.
“Untuk kali ini kami mencoba varietas lokal yang lebih tahan kondisi cuaca. Masa panennya juga relatif singkat,” jelasnya.
Dengan perbaikan pola tanam tersebut, Iskandar memperkirakan hasil panen pada musim berikutnya dapat meningkat signifikan, dengan potensi omzet mencapai sekitar Rp7 juta.
Ia juga menyebut, dalam kondisi terbaik, kebun rooftop miliknya pernah menghasilkan hingga 2,5 kuintal melon. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah kondisi cuaca, terutama saat musim hujan yang kurang mendukung sistem budidaya terbuka.
“Kalau musim hujan memang cukup berpengaruh, terutama untuk varietas tertentu. Tantangan utamanya ada pada cuaca,” ujarnya.
Keahlian bertani modern tersebut diperoleh secara mandiri. Awalnya, Iskandar mengikuti program ketahanan pangan desa, kemudian mengembangkan pengetahuan melalui berbagai sumber pembelajaran daring.
Dalam proses budidaya, ia menggunakan sistem hidroponik dengan metode fertigasi tetes (drip irrigation) untuk mengalirkan nutrisi ke tanaman.
“Sistem penyiraman menggunakan drip fertigasi. Saya belajar secara mandiri melalui media digital,” ungkapnya.
Selain menjadi sumber penghasilan, aktivitas berkebun di rooftop juga dimanfaatkan Iskandar sebagai sarana menjaga kebugaran di usia menjelang pensiun.
“Sekalian aktivitas pagi, sambil olahraga juga. Udara di sini juga segar,” katanya.
Ia berharap inovasi pemanfaatan rooftop untuk pertanian ini dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mengembangkan konsep pertanian perkotaan (urban farming).
“Semoga bisa menginspirasi, terutama anak muda, untuk memanfaatkan lahan terbatas menjadi sesuatu yang produktif,” pungkasnya.










