TVRINews, Surabaya
Di tengah perkembangan teknologi dan arus modernisasi yang semakin pesat, upaya pelestarian warisan budaya Nusantara terus dilakukan oleh berbagai kalangan. Salah satunya melalui pelestarian keris, senjata tradisional yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO.
Kolektor sekaligus pemerhati budaya keris, KRA Rivo Cahyono Setyonegoro, menilai keris bukan sekadar benda pusaka atau senjata tradisional. Di balik setiap bilah keris tersimpan nilai sejarah, seni, filosofi, serta identitas budaya bangsa yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.
Rivo mengaku mulai menekuni dunia perkerisan secara serius sejak sekitar 12 tahun lalu. Ketertarikannya berawal dari keinginan memahami makna yang terkandung dalam setiap keris, bukan semata-mata untuk mengoleksi benda pusaka.
“Dalam satu bilah keris terdapat perjalanan sejarah, karya seni, filosofi hidup, hingga jejak peradaban leluhur. Itulah yang membuat saya tertarik untuk mempelajari dan melestarikannya,” ujarnya.
Keris pertama yang dimilikinya merupakan keris tua ber-dhapur Tilam Upih yang diperoleh dari seorang sesepuh. Dari pengalaman tersebut, ia memahami bahwa mengoleksi keris bukan sekadar hobi, melainkan bagian dari upaya menjaga warisan budaya bangsa.
Menurutnya, keris memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia karena menjadi simbol identitas sekaligus pengingat kejayaan peradaban Nusantara di masa lampau.
“Keris mengajarkan bahwa leluhur kita memiliki kemampuan teknologi tempa yang tinggi serta nilai-nilai kehidupan yang sarat makna. Ini menjadi pengingat akan akar budaya yang kita miliki,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya perkerisan. Menurutnya, pengakuan dunia terhadap keris harus diimbangi dengan pemahaman masyarakat Indonesia terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
“Generasi muda tidak harus melihat keris dari sisi mistis. Yang terpenting adalah memahami nilai sejarah, seni, dan filosofi yang menjadi bagian dari jati diri bangsa,” tuturnya.
Rivo menjelaskan setiap keris memiliki makna berbeda sesuai bentuk atau dhapur serta motif pamor yang dimiliki. Keris Tilam Upih, misalnya, melambangkan kesederhanaan dan fondasi kehidupan. Sementara Sabuk Inten menggambarkan kemuliaan dan tanggung jawab, sedangkan Naga Sasra dimaknai sebagai simbol kepemimpinan dan kekuatan batin.
“Bagi saya, keris merupakan bahasa simbolik yang diwariskan leluhur kepada generasi penerus,” ujarnya.
Dalam dunia perkerisan, nilai sebuah keris tidak hanya ditentukan oleh usia atau bentuk fisiknya. Kualitas tempa, periode pembuatan (tangguh), serta sejarah kepemilikan menjadi faktor penting yang menentukan nilai budaya dan historis sebuah pusaka.
“Karena itu, memahami keris membutuhkan proses belajar yang panjang. Tanpa pengetahuan yang cukup, seseorang bisa saja keliru dalam menilai sebuah keris,” jelasnya.
Menurut Rivo, tantangan terbesar dalam pelestarian keris saat ini bukan hanya menjaga kondisi fisik pusaka, tetapi juga mempertahankan cerita dan sejarah yang menyertainya.
“Banyak keris yang masih terawat, tetapi kisah dan asal-usulnya hilang. Padahal sejarah itulah yang menjadi ruh dari sebuah pusaka,” katanya.
Meski demikian, ia melihat minat masyarakat terhadap dunia perkerisan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran media sosial dinilai membuka ruang edukasi yang lebih luas sehingga semakin banyak generasi muda tertarik mempelajari keris.
“Sekarang semakin banyak anak muda yang mulai mengenal tangguh, dhapur, hingga pamor keris. Ini menjadi perkembangan yang positif bagi pelestarian budaya,” ungkapnya.
Menatap masa depan, Rivo optimistis keris akan tetap lestari di tengah kemajuan teknologi. Menurutnya, digitalisasi, dokumentasi tiga dimensi, hingga museum virtual dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan keris kepada masyarakat yang lebih luas.
“Teknologi bukan ancaman bagi budaya. Justru dapat menjadi media untuk memperluas pengetahuan dan memperkuat upaya pelestarian warisan leluhur,” ujarnya.
Ia berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga warisan budaya terus tumbuh agar keris tetap menjadi bagian dari identitas bangsa Indonesia.
“Keris adalah jejak masa lalu yang tetap hidup hingga hari ini. Selama masyarakat masih menghargai akar budayanya, keris akan terus lestari sebagai warisan bangsa,” pungkasnya.










