TVRINews, Surabaya
Subsektor kuliner menjadi penyumbang terbesar dalam ekonomi kreatif nasional, disusul fesyen dan kriya. Potensi tersebut dinilai perlu terus dikembangkan melalui peningkatan kualitas produk, penguatan merek, serta perluasan pemasaran agar pelaku usaha mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan bimbingan teknis (bimtek) bidang kuliner yang digelar Komisi VII DPR RI bersama Kementerian Ekonomi Kreatif di Surabaya. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 70 pelaku usaha kuliner.
Bambang yang juga menjabat Ketua Kelompok Fraksi Komisi VII DPR RI mengatakan, sektor kuliner memiliki peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mendukung pariwisata daerah. Menurutnya, kekhasan makanan lokal dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke suatu daerah.
“Subsektor kuliner memiliki potensi besar dalam menggerakkan ekonomi kreatif. Kami berharap para peserta dapat memanfaatkan pelatihan ini untuk mengembangkan usaha secara bertahap, mulai dari skala kecil hingga mampu menjadi usaha yang lebih besar dan berdaya saing,” ujar Bambang.
Ia menekankan, keberhasilan usaha kuliner tidak cukup hanya mengandalkan cita rasa. Pelaku usaha perlu memperhatikan standar kualitas produk, kelengkapan perizinan, kemasan yang menarik, serta strategi pemasaran digital agar mampu menjangkau konsumen yang lebih luas.
Bambang juga mendorong pelaku usaha memanfaatkan akses pembiayaan yang tersedia, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), untuk mendukung pengembangan bisnis. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya perlindungan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar terhindar dari praktik yang merugikan.
Sementara itu, Sekretaris Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif, Amir Hamzah, menilai kuliner khas Surabaya memiliki peluang untuk memperluas pasar melalui penguatan identitas produk.
Sejumlah kuliner lokal, seperti rujak cingur dan spikoe, telah dikenal masyarakat luas. Namun, pengembangan merek, kualitas kemasan, dan daya tahan produk masih perlu ditingkatkan agar produk lokal dapat dipasarkan secara lebih luas, termasuk menembus pasar nasional dan internasional.
“Produk kuliner khas daerah perlu memiliki identitas yang kuat dan kualitas yang terjaga. Penguatan merek, kemasan, serta daya tahan produk menjadi bagian penting agar kuliner lokal dapat menjangkau konsumen di luar daerah hingga pasar internasional,” ujar Amir.
Melalui kegiatan bimtek tersebut, pelaku usaha diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk meningkatkan kualitas produk dan memperkuat strategi bisnis. Sinergi antara DPR RI, Kementerian Ekonomi Kreatif, dan pemerintah daerah juga diperlukan untuk mendorong UMKM kuliner berkembang tanpa kehilangan karakteristik khas daerahnya.










