TVRINews, Malang
Seminar Nasional Bendungan Besar 2026 menjadi forum strategis untuk memperkuat tata kelola bendungan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus mendukung ketahanan air, pangan, dan energi nasional.
Kegiatan yang diselenggarakan Kementerian Pekerjaan Umum bersama Komite Nasional Indonesia untuk Bendungan Besar (KNI-BB) atau INACOLD ini berlangsung di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Kota Malang, dengan mengusung tema “Strategi Penguatan Tata Kelola Bendungan Besar untuk Adaptasi dan Mitigasi Dampak Perubahan Iklim”.
Rangkaian kegiatan meliputi Rapat Anggota Biasa (RAB), Rapat Anggota Tahunan (RAT), serta seminar nasional yang dibuka langsung oleh Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo.
Dalam sambutannya, Dody menegaskan pentingnya optimalisasi pengelolaan bendungan besar sebagai infrastruktur strategis yang berperan dalam mendukung ketahanan air, pangan, dan energi nasional. Pengelolaan yang optimal diharapkan mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

Ketua Umum INACOLD, Adenan Rasyid menyampaikan bahwa perubahan iklim menuntut pengelolaan sumber daya air yang semakin inovatif dan adaptif. Menurutnya, bendungan memiliki peran penting dalam penyediaan air bersih domestik, mendukung irigasi pertanian, hingga menjadi bagian dari pengembangan energi bersih.
"Melalui kolaborasi lintas sektor yang kuat, kita optimis dapat melahirkan pengelolaan infrastruktur sumber daya air yang inovatif dan berkelanjutan," ujar Adenan, dikutip Minggu, 8 November 2026.
Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan kunjungan lapangan ke Bendungan Sutami dan kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Karangkates di Kabupaten Malang.
Ketua Pelaksana Seminar Nasional Bendungan Besar 2026 Fahmi Hidayat mengatakan, kunjungan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat secara langsung pengelolaan bendungan serta pengembangan energi terbarukan.
Bendungan Sutami yang dikelola Perum Jasa Tirta I memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 105 megawatt (MW). Sementara itu, kawasan Karangkates menjadi lokasi pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) PLTS Terapung berkapasitas 130 megawatt peak (MWp).
Menurut Fahmi, integrasi energi hidro dan surya menjadi salah satu implementasi nyata dari pembahasan mengenai transisi energi dan ketahanan air nasional.
Selain kunjungan lapangan, Seminar Nasional Bendungan Besar 2026 juga menghadirkan diskusi ilmiah, presentasi makalah, Young Professionals Forum, serta coaching clinic. Berbagai isu strategis dibahas dalam forum tersebut, mulai dari keamanan bendungan, optimalisasi operasi waduk, adaptasi perubahan iklim, hingga pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan infrastruktur sumber daya air.
Melalui penyelenggaraan Seminar Nasional Bendungan Besar 2026, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, praktisi, dan pengelola bendungan diharapkan semakin kuat. Forum ini juga diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis untuk mewujudkan tata kelola bendungan yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan dalam mendukung ketahanan sumber daya air nasional.










