TVRINews, Malang
Polresta Malang Kota mendorong pelestarian identitas dan tradisi lokal Malang Raya melalui dunia pendidikan. Upaya tersebut diwujudkan melalui Deklarasi Pelestarian Budaya Lokal yang digelar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda, khususnya mahasiswa yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia. Pengenalan budaya lokal dinilai penting untuk menjaga identitas dan tradisi masyarakat Malang Raya di tengah perkembangan zaman dan modernisasi.
Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi Sukarno mengatakan, gerakan pelestarian budaya tersebut berangkat dari kesadaran terhadap besarnya potensi lokal Malang Raya yang perlu terus dikenalkan, dirawat, dan dikembangkan bersama.
Menurut Danang, Malang Raya tidak hanya dikenal sebagai kota pendidikan, tetapi juga memiliki kekayaan seni budaya, prestasi olahraga, musik, serta karakter sosial masyarakat yang menjadi bagian dari identitas daerah.
"Gerakan ini murni berakar dari kesadaran terhadap kekayaan potensi lokal Malang Raya. Kita memiliki banyak keunggulan, mulai dari pendidikan, olahraga, seni budaya hingga musik. Potensi tersebut harus terus dirawat dan dikembangkan agar tidak hilang tergerus perkembangan zaman," kata Danang, dikutip Minggu, 8 November 2026.
Ia menambahkan, edukasi budaya lokal memiliki peran penting bagi mahasiswa, terutama mahasiswa baru yang datang dari berbagai latar belakang daerah dan budaya.
Melalui pengenalan tradisi masyarakat setempat, proses adaptasi dan akulturasi budaya di lingkungan kampus diharapkan dapat berlangsung secara positif. Keberagaman budaya tersebut juga menjadi modal untuk memperkuat persatuan dan toleransi di tengah masyarakat.
Danang berharap, kegiatan pelestarian budaya lokal tidak berhenti pada deklarasi maupun seminar, tetapi dapat dilaksanakan secara berkelanjutan di berbagai perguruan tinggi di Malang Raya.
"Harapan kami, pengenalan dan akulturasi budaya lokal ini bisa dilakukan di seluruh kampus. Kita memang berasal dari latar belakang yang beragam, tetapi keberagaman tersebut justru menjadi kekuatan untuk memperkokoh persatuan Indonesia," ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Polresta Malang Kota berencana menjalin kolaborasi dengan pemerintah daerah, kalangan akademisi, tokoh budaya, serta pemangku kepentingan lainnya untuk mendokumentasikan kekayaan budaya lokal. Salah satu budaya yang menjadi perhatian adalah Boso Walikan, bahasa khas Malang yang memiliki keunikan tersendiri dalam kehidupan sosial masyarakat.
Dokumentasi Boso Walikan dalam bentuk buku diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran sekaligus menjaga keberlangsungan bahasa tersebut agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang.
"Boso Walikan merupakan salah satu identitas khas Malang yang perlu diwariskan. Ke depan, melalui koordinasi dan kerja sama berbagai pihak, kami berharap bisa mendokumentasikannya dalam sebuah buku agar dapat dipelajari dan dikenal oleh generasi mendatang," jelasnya.
Danang menegaskan, pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab satu institusi, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Kepolisian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas budaya, dan generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga kekayaan tradisi daerah.
Melalui deklarasi tersebut, Polresta Malang Kota berharap tumbuh kesadaran kolektif untuk menghargai budaya lokal sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap identitas Malang Raya.
Selain menjaga warisan budaya, penguatan nilai kebersamaan dan toleransi antarmasyarakat juga diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan yang aman, tertib, nyaman, dan kondusif di wilayah Malang Raya.










