TVRINews, Lumajang
Kebakaran hutan dan lahan melanda kawasan Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, sejak akhir Agustus 2026. Hingga kini, sedikitnya 598 hektare lahan dan hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dilaporkan terbakar.
Kebakaran tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga berdampak terhadap satwa yang hidup di kawasan tersebut. Sejumlah satwa dilindungi ditemukan mati, sementara sebagian lainnya masih bertahan di tengah kawasan yang terdampak kebakaran.
Sejumlah video yang direkam petugas memperlihatkan kondisi satwa di kawasan Gunung Semeru. Dalam rekaman tersebut, terlihat sejumlah satwa masih berusaha bertahan di area yang terbakar. Petugas juga menemukan beberapa satwa dalam kondisi mati.
Berdasarkan laporan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), luasan lahan yang terbakar mencapai sedikitnya 598 hektare. Kebakaran tersebar di sejumlah titik, di antaranya kawasan Ranu Kembar dan Watu Rejeng yang berada di jalur pendakian Gunung Semeru, serta Blok Ayak-Ayak di sekitar Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
Kabag TU BB TNBTS Lumajang, Bambang Suriyono, mengatakan pemadaman terus dilakukan oleh petugas gabungan. Upaya pemadaman juga melibatkan helikopter karena sejumlah titik api berada di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
“Setelah beberapa waktu kemarin, helikopter juga diperbantukan untuk memadamkan lokasi kebakaran karena titik api yang tidak bisa dijangkau melalui jalur darat. Kini kita dihadapkan pada titik api yang cukup luas terbakar dan kita harus ekstra memadamkan api dengan petugas gabungan yang terus siap. Bahkan, sejumlah satwa juga kita temukan di wilayah yang terbakar, ada yang sudah mati dan ada yang masih bertahan,” ujar Bambang.
Menurut Bambang, pihaknya masih melakukan pendataan terhadap satwa yang terdampak kebakaran. Petugas juga mengumpulkan sejumlah dokumen untuk memastikan jenis dan jumlah satwa yang ditemukan mati di kawasan TNBTS.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang terus melakukan pemadaman dengan berbagai metode. Selain pemadaman secara manual melalui jalur darat, upaya juga dilakukan menggunakan water bombing.
Kalaksa BPBD Kabupaten Lumajang, Inugroho, mengatakan kondisi medan menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman. Sejumlah titik api berada di tebing terjal, jurang, dan lembah yang dalam. Selain itu, sumber air juga berada cukup jauh dari lokasi kebakaran.
“Lokasi kebakaran berada di tebing terjal, jurang, dan lembah yang dalam. Sumber air berada sangat jauh dari titik api. Petugas kesulitan melakukan pemadaman darat secara maksimal, tapi kita tetap lakukan semaksimal mungkin agar api segera bisa dikuasai dan benar-benar padam,” kata Inugroho.
Untuk mempercepat proses pemadaman, BNPB juga telah mengajukan kembali bantuan helikopter yang sebelumnya disiagakan di Jawa Timur. Helikopter tersebut sempat digeser ke Lampung untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera.
Bantuan helikopter diharapkan dapat kembali melakukan water bombing di kawasan Gunung Semeru, khususnya pada titik-titik api yang sulit dijangkau petugas melalui jalur darat.
Hingga kini, petugas gabungan masih berjibaku melakukan pemadaman sekaligus memantau sejumlah titik yang berpotensi kembali terbakar. Pendataan terhadap dampak kebakaran, termasuk kondisi satwa di kawasan TNBTS, juga masih terus dilakukan.










