TVRINews, Surabaya
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Menteri Agama Republik Indonesia sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. KH. Nasaruddin Umar, menghadiri Tabligh Akbar Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian menuju penyelenggaraan International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang akan digelar di Jakarta dan Palembang pada September mendatang. Agenda tersebut sekaligus memperkuat peran masjid sebagai pusat peradaban, diplomasi keagamaan, dan perdamaian dunia.
Gubernur Khofifah menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Agama RI atas kepercayaan yang diberikan kepada Jawa Timur sebagai salah satu tuan rumah penyelenggaraan Bridging to IGIC 2026.
Menurut Khofifah, kepercayaan tersebut merupakan pengakuan atas posisi strategis Jawa Timur sebagai pusat pendidikan Islam, basis pesantren dan santri terbesar di Indonesia, sekaligus daerah yang selama ini konsisten membangun kehidupan beragama yang moderat, inklusif, harmonis, dan penuh toleransi.
"Kepercayaan ini menjadi kehormatan sekaligus tanggung jawab bagi Jawa Timur untuk terus menghadirkan praktik kehidupan beragama yang damai, inklusif, dan mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat dunia," ujarnya, Selasa, 4 Agustus 2026.
Ia menilai pemilihan Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya sebagai lokasi kegiatan juga memiliki makna strategis. Selain menjadi ikon kebanggaan masyarakat Jawa Timur, masjid tersebut berkembang sebagai pusat ibadah, pendidikan, pemberdayaan umat, dan syiar Islam yang menebarkan nilai-nilai kesejukan, toleransi, serta kemaslahatan.
Khofifah mengatakan tema IGIC 2026, "Mosque Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace", menegaskan bahwa masjid memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat ibadah ritual.
"Masjid pada hakikatnya adalah pusat peradaban yang berfungsi menumbuhkan nilai-nilai kasih sayang, persatuan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, hingga kepedulian sosial," ujarnya.
"Oleh karena itu, masjid memegang peran vital sebagai ruang diplomasi keagamaan dan penyemaian perdamaian, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia," tambah Khofifah.
Lebih lanjut, Khofifah menekankan pentingnya menginternalisasi ajaran Islam yang mengedepankan persaudaraan, perdamaian, dan kemaslahatan sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. Dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki modal sosial yang sangat kuat untuk terus menghadirkan wajah Islam yang damai, moderat, inklusif, dan rahmatan lil 'alamin.
"Dengan jumlah umat muslim terbesar di tengah masyarakat yang majemuk, kita memiliki modal sosial yang sangat kuat untuk menghadirkan wajah Islam yang damai, inklusif, dan rahmatan lil 'alamin," ucapnya.
Menurut Khofifah, diplomasi keagamaan menjadi salah satu instrumen penting dalam menjawab berbagai tantangan global, termasuk konflik, polarisasi, dan krisis kemanusiaan yang masih terjadi di berbagai belahan dunia. Ia menilai penyelenggaraan IGIC 2026 diharapkan tidak hanya menghasilkan kesepahaman bersama, tetapi juga melahirkan jejaring kolaborasi konkret antarimam masjid, ulama, dan tokoh agama dari berbagai negara dalam memperkuat moderasi beragama serta memperluas kerja sama untuk menciptakan perdamaian dunia.
"Bersama kita berharap kegiatan ini nantinya dapat melahirkan jejaring kolaborasi konkret antarimam masjid dan tokoh agama dunia dalam memperkuat moderasi beragama," harapnya.
Di akhir sambutannya, Gubernur Khofifah mengajak seluruh masyarakat menjadikan Jawa Timur sebagai bagian dari gerakan menyebarkan pesan perdamaian kepada dunia.
"Dari Jawa Timur, mari kita kirimkan pesan kepada dunia bahwa keberagaman adalah anugerah yang harus dirawat, dialog adalah jalan menuju persaudaraan, dan perdamaian adalah tanggung jawab kita bersama," tegasnya.
Sementara itu, Menteri Agama Republik Indonesia sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., menyampaikan bahwa penyelenggaraan IGIC 2026 menjadi bukti meningkatnya perhatian dunia terhadap praktik Islam moderat yang berkembang di Indonesia.
Menag Nasaruddin menambahkan, Indonesia dinilai berhasil menjadikan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan umat, pendidikan, pelayanan sosial, dan penguatan kehidupan masyarakat.
"Insyaallah sebentar lagi kita akan kedatangan tamu-tamu terhormat. Mari kita fungsikan masjid-masjid kita sebagai contoh bahwa masjid mampu memberdayakan umat. Inilah yang dikagumi dunia dari kita semua," terangnya.
Nasaruddin mengungkapkan, International Grand Imams Conference 2026 direncanakan dihadiri hampir 400 imam besar dari berbagai negara, termasuk Grand Syekh Al-Azhar. Kehadiran para pemimpin agama tersebut diharapkan menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus memperkuat kolaborasi internasional dalam mewujudkan perdamaian dunia.









