TVRINews, Malang
Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, mendorong penguatan pencegahan stunting sejak usia remaja. Langkah ini dinilai penting untuk mempersiapkan calon orang tua yang sehat sekaligus menjaga keberlanjutan penurunan prevalensi stunting di Jawa Timur.
Arumi menyampaikan hal tersebut seusai pembukaan Peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 Provinsi Jawa Timur yang dirangkai dengan Jambore Kader PKK 2026, Senin (26/10/2026). Kegiatan yang dibuka Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa itu diikuti pengurus dan kader TP PKK dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Menurut Arumi, prevalensi stunting di Jawa Timur saat ini mencapai 14,7 persen, mendekati target nasional sekitar 14 persen. Capaian tersebut perlu dipertahankan melalui intervensi berkelanjutan dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Penurunan stunting harus terus dikawal. Kita tidak boleh berhenti hanya karena angkanya sudah turun. Pencegahan perlu dilakukan sejak dini, bahkan sebelum seseorang memasuki usia pernikahan dan kehamilan,” ujar Arumi.
Ia menegaskan, pencegahan stunting tidak cukup dilakukan ketika ibu sudah hamil. Edukasi perlu diberikan sejak usia remaja, baik kepada remaja putri maupun remaja putra, agar mereka memahami pentingnya kesehatan reproduksi, pemenuhan gizi, dan kesiapan membangun keluarga.
“Remaja perlu dibekali pemahaman tentang stunting sejak awal. Bukan hanya remaja putri, tetapi remaja putra juga harus memahami bahwa kesehatan anak merupakan tanggung jawab bersama yang dipersiapkan sejak sebelum berkeluarga,” katanya.
Kader PKK Perkuat Edukasi Keluarga
Arumi menilai kader PKK memiliki peran strategis dalam memperluas edukasi pencegahan stunting hingga tingkat keluarga. Keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari kerja kader di berbagai daerah serta kolaborasi dengan kader keluarga berencana, orang tua, dan unsur masyarakat lainnya.
Karena itu, Jambore Kader PKK menjadi momentum untuk meningkatkan kapasitas sekaligus memperbarui pengetahuan para kader dalam menghadapi persoalan keluarga yang semakin beragam.
“Melalui jambore ini, kader mendapatkan pembekalan sekaligus penyegaran pengetahuan. Harapannya, mereka semakin siap menjalankan program PKK dan menjawab kebutuhan masyarakat di wilayah masing-masing,” tutur Arumi.
Ia menjelaskan, tugas kader PKK tidak hanya berkaitan dengan penurunan stunting, tetapi juga mencakup kesehatan keluarga, ketahanan pangan, kesejahteraan sosial, kesiapsiagaan bencana, hingga pendampingan pendidikan anak di era digital.
Menurutnya, setiap daerah memiliki karakteristik dan persoalan yang berbeda. Oleh sebab itu, pelaksanaan program PKK perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat agar manfaatnya lebih tepat sasaran.
Peran Ayah dan ASI Eksklusif
Selain edukasi bagi remaja, Arumi menekankan pentingnya keterlibatan ayah dalam mendukung tumbuh kembang anak. Dukungan tersebut mencakup pendampingan kepada ibu selama kehamilan, proses menyusui, serta pemenuhan kebutuhan gizi dan pengasuhan anak.
Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi juga menjadi salah satu aspek yang perlu terus disosialisasikan kepada calon orang tua dan keluarga.
“Pencegahan stunting bukan hanya tugas ibu. Ayah juga harus terlibat, termasuk memberikan dukungan selama kehamilan dan menyusui. Kesiapan fisik, pengetahuan, serta dukungan emosional dalam keluarga sama-sama penting,” jelasnya.
Arumi juga mengingatkan agar kader tidak semata-mata dibebani target angka penurunan stunting. Menurutnya, dedikasi kader perlu diimbangi dengan program yang realistis, sesuai kebutuhan, dan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
“Para kader sudah bekerja dengan luar biasa. Yang perlu kita dorong adalah bagaimana program dijalankan sesuai kondisi daerah, sehingga setiap kegiatan benar-benar memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat,” ungkapnya.
Melalui peringatan HKG PKK ke-54 dan Jambore Kader PKK 2026, TP PKK Jawa Timur berharap sinergi antarkader semakin kuat. Edukasi sejak usia remaja, penguatan peran keluarga, serta pendampingan masyarakat diharapkan menjadi bagian penting dalam menjaga penurunan stunting dan meningkatkan kualitas keluarga di Jawa Timur.










