TVRINews, Malang
Menjadi juara Olimpiade Sains Nasional (OSN) Pendidikan Menengah 2026 bukan akhir perjalanan bagi para talenta sains Indonesia. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyiapkan pembinaan lanjutan dan seleksi bagi para pemenang untuk membuka peluang mengikuti berbagai kompetisi sains internasional.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti dalam penutupan dan penganugerahan OSN Dikmen 2026 di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu, 19 September 2026.
Mu'ti menjelaskan para peraih medali akan mendapatkan kesempatan mengikuti pembinaan sebelum diseleksi untuk mewakili Indonesia dalam berbagai ajang internasional. Dengan demikian, prestasi di OSN menjadi bagian dari proses panjang pengembangan talenta, bukan sekadar pencapaian dalam satu kompetisi.

(Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti. [Foto: TVRI Jawa Timur/Arief Masbuchin])
“Para pemenang ini tidak hanya mendapatkan hadiah berupa uang tadi, tapi juga kesempatan untuk mendapatkan pembinaan, tentu setelah semuanya melalui seleksi ulang oleh kementerian,” kata Mu'ti, dikutip Minggu, 20 September 2026.
Menurutnya, OSN merupakan salah satu upaya Kemendikdasmen mendorong prestasi akademik sekaligus mengembangkan potensi murid di berbagai jenjang pendidikan. Pengalaman berkompetisi diharapkan menjadi bekal bagi peserta untuk terus belajar, mengembangkan kemampuan, dan menapaki jenjang prestasi berikutnya.
Ia juga mendorong agar kemampuan sains yang dikembangkan para peserta tidak berhenti pada pencapaian akademik. Sains perlu dikaitkan dengan potensi yang dimiliki Indonesia, mulai dari kekayaan alam, hayati, nabati, hingga sosial budaya.
Dengan pendekatan tersebut, ilmu pengetahuan dan teknologi diharapkan mampu menghasilkan nilai tambah serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Tantangan lain yang perlu dipersiapkan adalah perkembangan kecerdasan artifisial atau AI. Menurutnya, generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi sekaligus tetap memiliki moralitas dan tanggung jawab dalam penggunaannya.
“Kami menekankan paling tidak tiga hal, yaitu how to master AI, bagaimana menguasai AI, kemudian how to work with AI, bagaimana dapat bekerja dengan AI, dan yang ketiga how to go beyond AI, bahwa anak-anak itu harus melampaui AI,” terangnya.
Ia juga menegaskan, tidak ada pengurangan hadiah untuk para pemenang OSN. Adapun para peraih medali OSN 2026 tetap memperoleh apresiasi sebagaimana tahun sebelumnya. Peraih medali emas, perak, dan perunggu jenjang SMA, MA, SMK, MAK dan sederajat masing-masing mendapatkan Rp25 juta, Rp20 juta, dan Rp15 juta. Sementara jenjang SD/MI/sederajat serta SMP/MTs/sederajat memperoleh Rp15 juta untuk emas, Rp10 juta untuk perak, dan Rp5 juta untuk perunggu.
Sementara itu, Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemendikdasmen Maria Veronica Irene Herdjiono, menyampaikan bahwa UMM kembali dipercaya menjadi tuan rumah OSN untuk kedua kalinya. Menurutnya, pelaksanaan kompetisi di lingkungan kampus memberikan pengalaman akademik tersendiri bagi peserta.
Selain berkompetisi, para peserta juga mengikuti Bina Talenta Indonesia (BTI) Kolaboratif sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan melalui kolaborasi lintas bidang. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembinaan talenta yang tidak hanya berorientasi pada hasil kompetisi, tetapi juga pengembangan kemampuan peserta.
“Universitas Muhammadiyah Malang telah berhasil menjadi tuan rumah untuk yang kedua kalinya dan sangat dirasakan oleh adik-adik semua atmosfer akademik ketika mereka melakukan kompetisi di tempat yang memang mereka bisa melaksanakannya secara tepat,” paparnya.
Dengan rangkaian penghargaan, pembinaan, dan seleksi lanjutan tersebut, OSN 2026 menjadi salah satu tahapan dalam perjalanan para talenta sains Indonesia untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membuka peluang berkompetisi di tingkat internasional.










