TVRINews, Surabaya
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) menggandeng Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Kadin Institute, dan Swisscontact untuk menyelaraskan kurikulum pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia industri. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) Job/Occupation Analysis (JOA) untuk okupasi Network Engineer yang digelar di Surabaya selama dua hari.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan link and match yang lebih konkret antara pendidikan tinggi vokasi dan industri. Melalui JOA, perguruan tinggi menggali langsung tugas, tanggung jawab, hingga kompetensi yang dibutuhkan seorang Network Engineer di lapangan.
Enam perusahaan dilibatkan sebagai panelis dalam kegiatan tersebut, yakni PT Satoria, PT Radnet Digital Indonesia, PT Solusi Media Digital, PT Cyberindo Aditama, PT Naraya Telematika, serta PT Supra Primatama Nusantara (Biznet Networks).
Direktur Kadin Institute, Nurul Indah Susanti, mengatakan kolaborasi antarlembaga ini menjadi langkah penting untuk mewujudkan keselarasan pendidikan dan industri yang selama ini masih menjadi tantangan.
“Selama ini kalau kita melihat link and match, link saja, match-nya belum. Kami berharap melalui kolaborasi ini industri, kampus, dan fasilitas dari Swisscontact dapat menciptakan wadah baru untuk bersama-sama menyusun kurikulum yang sesuai kebutuhan industri,” ujarnya.
Ia menambahkan, hasil dari kegiatan tersebut diharapkan menjadi Industry Based Curriculum (IBC) yang dapat diterapkan di PENS maupun direplikasi oleh institusi pendidikan vokasi lainnya.
Wakil Direktur PENS, Prof. Moch. Zen Samsono Hadi, menyampaikan bahwa FGD ini menjadi momentum penting lantaran PENS sedang melakukan revisi kurikulum berkala di seluruh program studi.
“Jadi nantinya kurikulum yang kami buat benar-benar sesuai dengan yang diinginkan oleh pihak industri. Kami ingin mendapatkan masukan tentang kompetensi apa yang dibutuhkan, sertifikasi apa yang diperlukan, termasuk soft skill yang harus diberikan kepada mahasiswa,” katanya.
Zen menambahkan, kerja sama tidak berhenti pada FGD, tetapi berlanjut hingga proses hilirisasi agar memberi manfaat luas bagi mahasiswa menuju Indonesia Emas 2045.
“Harapan kami, dari pihak industri tidak bosan selama dua hari berkumpul dengan pihak kampus untuk meramu apa yang sesuai dan apa yang pas diberikan kepada mahasiswa yang nantinya menjadi generasi emas Indonesia 2045,” ujarnya.
Senior Program Officer SS4C Swisscontact, Benaya Jaya, menjelaskan bahwa penyelarasan kurikulum dilakukan untuk memperkecil kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
“Outcome dari kegiatan ini adalah sekolah dan perguruan tinggi, terutama pendidikan vokasi, memiliki kurikulum yang selaras dengan industri. Dengan kurikulum yang selaras, nantinya lulusan bisa langsung dipakai oleh industri untuk bekerja sehingga peluang kerjanya menjadi lebih besar,” jelasnya.
Sementara itu, Senior Program Officer VET Development Swisscontact, Ilham Hasbiullah, menegaskan bahwa pendekatan ini mengubah paradigma penyusunan kurikulum dari supply driven menjadi demand driven.
“Kita ingin merubah dari supply driven curriculum menjadi demand driven curriculum. Yang dilakukan awal adalah analisis dulu dari pekerjaan industri, baru itu ditransfer atau diterjemahkan menjadi kurikulum yang ada,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa industri kini ditempatkan sebagai referensi utama.
“Industri itu menjadi salah satu referensi, referensi kurikulum yang nyata dengan keterbaharuan kondisi saat ini,” katanya.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat kurikulum PENS lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus meningkatkan kesiapan lulusan saat memasuki dunia kerja.










