TVRINews, Surabaya
Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperkuat upaya pelestarian Topeng Malangan sekaligus mendorong regenerasi pelaku seni agar kesenian tradisional tersebut tetap berkembang dan dikenal generasi muda.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan komitmen tersebut saat memberikan apresiasi kepada para pelaku dan pelestari kesenian asli Jawa Timur di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Kota Malang.
Dalam kegiatan tersebut, Khofifah memberikan dukungan kepada 13 sanggar tari Topeng Malangan. Sanggar Tari Setyotomo menerima satu set gamelan, sedangkan 12 sanggar lainnya masing-masing mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp5 juta.
Khofifah mengatakan, dukungan tersebut merupakan bentuk penghargaan kepada para sesepuh, maestro, seniman, budayawan, sanggar, komunitas, dan pihak lain yang selama ini menjaga serta mewariskan Topeng Malangan.
“Terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pelestari Topeng Malangan yang terus menjaga dan mewariskan kesenian ini. Apa yang panjenengan lakukan ini adalah menjaga identitas dan warisan budaya Jawa Timur untuk generasi yang akan datang,” ujar Khofifah.
Menurut Khofifah, Topeng Malangan tidak hanya merupakan seni pertunjukan, tetapi juga mengandung sejarah, simbol, karakter, filosofi, nilai kehidupan, dan kearifan lokal yang berkaitan erat dengan Cerita Panji.
Karena itu, pelestarian tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan bentuk pertunjukan. Pengetahuan, keterampilan, nilai, dan filosofi yang terkandung dalam Topeng Malangan juga perlu diwariskan kepada generasi muda.
“Kuncinya adalah regenerasi. Jangan sampai sebuah kesenian memiliki panggung, tetapi kehilangan penerus. Keberhasilan pelestarian budaya tidak hanya diukur dari banyaknya pertunjukan, tetapi juga dari lahirnya generasi baru yang mampu meneruskannya,” katanya.
Khofifah juga mengapresiasi Program Seni Waris yang memberikan ruang bagi Topeng Malangan untuk terus dipertunjukkan, dipelajari, dan dikenalkan kepada masyarakat.
Khusus bantuan seperangkat gamelan kepada Sanggar Tari Setyotomo, ia berharap fasilitas tersebut dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran bagi generasi muda.
“Semoga gamelan ini tidak hanya menjadi alat musik, tetapi menjadi bagian dari proses pewarisan. Dari sini anak-anak muda belajar, berlatih, berkarya, dan pada akhirnya menjadi generasi yang meneruskan Topeng Malangan,” tuturnya.
Selain pelestarian, Khofifah menilai keberlanjutan seni dan budaya perlu didukung dengan penguatan kapasitas pelaku serta akses ekonomi. Menurutnya, seni dan budaya dapat dikembangkan bersama sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Budayanya lestari, senimannya berdaya, generasi mudanya bangga, ekonomi kreatifnya tumbuh, dan masyarakatnya memperoleh manfaat,” ujarnya.
Dalam kegiatan yang sama, Pemprov Jatim juga memberikan bantuan modal Rp5 juta kepada Paguyuban Pedagang Kaki Lima Taman Krida Budaya Malang. Bantuan tersebut diharapkan mendukung keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar ruang kebudayaan.
Khofifah menegaskan, pelestarian budaya membutuhkan kolaborasi pemerintah, seniman, komunitas, lembaga pendidikan, pelaku usaha, dan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Evy Afianasari mengatakan, ekosistem Topeng Malangan menunjukkan perkembangan. Jumlah sanggar tari khusus Topeng Malangan meningkat dari 11 sanggar pada 2025 menjadi 15 sanggar pada 2026.
Jumlah seniman aktif juga meningkat. Pada 2025 tercatat 369 seniman aktif, sedangkan hingga Agustus 2026 jumlahnya mencapai 589 orang.
“Pertumbuhan jumlah sanggar dan seniman aktif menunjukkan bahwa ekosistem Topeng Malangan terus berkembang. Ini menjadi modal penting untuk memperkuat regenerasi sekaligus memastikan kesenian ini tetap hidup dan dekat dengan generasi muda,” kata Evy.
Menurut Evy, peningkatan tersebut menjadi dasar untuk memperluas ruang pertunjukan, pembinaan, pendidikan, dan kolaborasi sehingga semakin banyak generasi muda mengenal dan terlibat dalam pelestarian Topeng Malangan.










