TVRINews, Surabaya
Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono menyoroti lonjakan harga daging ayam di Pasar Wonokromo, Surabaya, yang mencapai hampir dua kali lipat dibanding harga di tingkat peternak.
Ayam yang dilepas peternak seharga Rp19.000 per kilogram sampai di pedagang pasar dengan harga Rp33.000 hingga Rp35.000. Kapoksi Komisi VII DPR RI tersebut mempertanyakan transparansi dan efisiensi rantai distribusi di balik selisih harga tersebut saat memantau harga kebutuhan pokok di lokasi.
“Dari peternak harga ayam Rp19.000. Berarti apa? Ada satu kesalahan di dalam distributor, distribusi ayam dari peternak menuju ke pedagang. Ini kenapa harganya bisa naik dua kali lipat?," kata Bambang Haryo.
Selisih Rp14.000 hingga Rp16.000 per kilogram itu, menurut dia, perlu ditelusuri komponen biayanya. Ia meminta pemerintah mengevaluasi rantai distribusi ayam agar harga di tingkat konsumen bisa ditekan hingga sekitar Rp30.000, dengan pengawasan yang memastikan distribusi berjalan efisien dan tidak membebani masyarakat. Rincian biaya transportasi, penyimpanan, penyusutan, dan margin setiap pelaku distribusi masih perlu ditelusuri lebih jauh.
Di luar ayam, sejumlah harga di Pasar Wonokromo terpantau relatif stabil. Telur berada di kisaran Rp24.000, cabai Rp30.000 hingga Rp40.000, dan bawang merah Rp25.000 hingga Rp30.000, berdasarkan pemantauan dan keterangan pedagang. Bambang Haryo membandingkannya dengan periode sebelumnya, ketika cabai dan ayam pernah melonjak jauh lebih tinggi. Perbandingan itu perlu dibaca dengan data pembanding yang sepadan, mulai jenis komoditas hingga rentang waktunya.
“Ini bukti bahwa pemerintah sangat bagus sekali di dalam mengantisipasi harga-harga kebutuhan pokok masyarakat,” ujarnya.
Minyak goreng juga menjadi sorotannya. Sekitar sepuluh hari sebelumnya, harga yang ditemuinya masih di kisaran Rp21.000. Setelah persoalan itu disampaikan kepada Satgas Pangan, harga yang dipantaunya turun menjadi Rp15.700, yang menurut dia terjadi setelah Satgas Pangan bersama Bulog melakukan intervensi pasokan. Jenis, kemasan, dan lokasi penjualan minyak goreng yang dibandingkan perlu dipastikan agar angkanya sepadan.
“Sekarang jadi Rp15.700,” katanya.
Perubahan itu, menurut Bambang Haryo, menunjukkan pentingnya pengawasan pemerintah terhadap distribusi dan ketersediaan barang kebutuhan pokok.
Ia juga menanggapi anggapan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi menaikkan harga pangan karena kebutuhan bahan baku meningkat. Berdasarkan pemantauannya di Pasar Wonokromo, sejumlah harga komoditas masih relatif stabil meski program MBG terus berjalan dan pesertanya bertambah.
“Tadi dikatakan, ‘Pak, ini kalau tidak ada MBG, harga murah.’ Lah, terus saya tanya, ‘Sekarang harganya murah enggak?’ ‘Murah, Pak.’ Lho, MBG sekarang tambah banyak, tambah meningkat. Jadi ini bukti bahwa MBG tidak berpengaruh terhadap harga yang ada dan pemerintah tetap menjaga harga-harga komoditas tetap stabil,” ujarnya.
Penilaian itu bersandar pada pengamatan di Pasar Wonokromo, sementara pengaruh MBG secara lebih luas memerlukan data permintaan, pasokan, dan harga di berbagai daerah.
Selain harga, Bambang Haryo mengaku mendapat keterangan dari sejumlah pedagang mengenai peningkatan aktivitas perdagangan sekitar 15 hingga 20 persen, meski belum dirinci apakah kenaikan itu merujuk omzet, volume penjualan, atau jumlah pembeli.
Di sisi lain, ia mengingatkan pembenahan fasilitas Pasar Wonokromo, terutama peralatan keselamatan dan CCTV. Dalam kunjungan itu, ia menyebut menemukan APAR yang telah kedaluwarsa dan sejumlah CCTV tidak berfungsi. Ia menyatakan telah menyiapkan enam unit CCTV serta tiga unit APAR yang sudah terisi, sementara tiga unit APAR lainnya akan diisi.
Bagi Bambang Haryo, pengawasan harga dan pembenahan pasar perlu berjalan beriringan. Harga pangan yang terjangkau penting bagi konsumen, sementara distribusi yang lancar dan pasar yang aman menjaga aktivitas ekonomi pedagang.










