TVRINews, Surabaya
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meluncurkan Program Studi Magister Kajian Turats di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Sabtu, 10 Oktober 2026. Program ini diharapkan memperkuat pelestarian dan pengembangan khazanah keilmuan ulama Nusantara.
Peluncuran tersebut dilakukan menjelang peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur. Dalam kesempatan yang sama, Khofifah menyerahkan beasiswa Magister Kajian Turats secara simbolis kepada 10 mahasiswa penerima. Program Magister Kajian Turats UINSA disebut sebagai program magister kajian turats pertama di Indonesia.
Kehadirannya diharapkan menjadi wadah untuk mengkaji, merawat, dan mengembangkan warisan intelektual ulama Nusantara sekaligus menyiapkan generasi akademisi yang mampu meneruskan tradisi keilmuan Islam.
“Kehidupan keislaman yang moderat dan damai merupakan khazanah yang sangat penting untuk diperkenalkan kepada masyarakat dunia,” kata Khofifah.
Menurut dia, turats dan manuskrip bukan sekadar peninggalan masa lalu. Naskah-naskah tersebut menyimpan ilmu, pemikiran, nilai, serta perjuangan para ulama dalam berbagai disiplin, mulai dari tafsir, hadis, fikih, tasawuf, hingga sejarah.
“Maka penting menggali, merawat, dan mengembangkan khazanah keilmuan ulama Nusantara sebagai salah satu kekuatan peradaban Islam yang dapat menjadi referensi dunia,” ujarnya.
Khofifah menilai Jawa Timur memiliki modal kuat untuk mengambil peran dalam memperkenalkan Islam moderat dan toleran di tingkat global. Potensi tersebut ditopang tradisi pesantren serta pemikiran ulama yang mengedepankan nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin.
Ia merujuk pemikiran intelektual Prof. Kishore Mahbubani yang pada 2010 membahas pergeseran pusat peradaban dunia menuju Asia. Menurut Khofifah, perkembangan tersebut membuka peluang bagi Indonesia, khususnya Jawa Timur, untuk memperkenalkan tradisi intelektual Islam yang tumbuh di lingkungan pesantren.
“Kalau kemudian yang menangkap peradaban dunia itu adalah Indonesia, dan kemudian kita persempit lagi di Jawa Timur, maka yang akan memberikan referensi dunia adalah Islam moderat, Islam toleran, Islam rahmatan lil ‘alamin. Sebab, sangat banyak intelektual berbasis pesantren di Jawa Timur yang luar biasa,” tuturnya.
Khofifah menjelaskan, gagasan pelestarian manuskrip kuno ulama Nusantara semakin menguat setelah dirinya dilantik sebagai gubernur pada Februari 2019. Saat itu, ia melihat demonstrasi teknologi yang dapat membantu memperkuat kertas rapuh dan memunculkan kembali tulisan pada dokumen lama.
Pengalaman tersebut mendorongnya melihat peluang penyelamatan kitab-kitab karya ulama Nusantara yang tersimpan di pesantren maupun tempat lainnya.
“Saya melihat ini sebagai peluang untuk menggali ilmu-ilmu para ulama Nusantara yang luar biasa, yang selama ini sudah terpendam, lapuk, dan membutuhkan penanganan agar bisa diselamatkan,” katanya.
Menurut Khofifah, sejumlah manuskrip membutuhkan penanganan serius karena mengalami kerusakan akibat penyimpanan yang kurang memadai dan paparan cuaca. Sehingga, ia melakukan kunjungan ke sejumlah pesantren untuk menelusuri naskah sekaligus membangun kepercayaan dengan para pemiliknya.
Dalam proses tersebut, pemerintah provinsi mengidentifikasi sekitar 400 kitab. Sebanyak 200 kitab di antaranya telah menjalani digitalisasi. Hasil penggalian khazanah keilmuan itu juga disusun dalam bentuk ikhtisar agar kandungannya lebih mudah dikenali dan dipelajari.
Khofifah menyebut ikhtisar tersebut pernah diserahkan kepada Grand Syekh Al-Azhar, Syekh Ahmed Mohamed Ahmed El-Tayeb. Ia juga mengutip pandangan KH Afifuddin Muhajir mengenai hubungan Nahdlatul Ulama dengan pelestarian tradisi keilmuan.
“Kalau KH Afifudin Muhajir menyebut, tidak ada Nahdlatul Ulama kalau tidak ada Nahdlatut Turats. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga kesinambungan keilmuan para ulama terdahulu,” ujarnya.
Selain digitalisasi, Khofifah menekankan pentingnya pendataan dan identitas penerbitan untuk melindungi karya-karya turats. Ia meminta agar naskah yang tersebar di pondok pesantren didokumentasikan dan diterbitkan secara tertib, termasuk melalui pencatatan identitas publikasi yang sesuai.
Menurut dia, pencatatan tersebut diperlukan untuk menjaga keterlacakan karya, memastikan atribusi kepengarangan, serta mencegah penerbitan ulang tanpa kejelasan sumber.
“Pelestarian turats perlu disertai dengan upaya dokumentasi, digitalisasi, pendataan, dan penerbitan yang tertib,” katanya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Pascasarjana UINSA, Prof. Masdar Hilmy, menyatakan pihaknya siap mengawal pelaksanaan Program Studi Magister Kajian Turats agar memberikan manfaat bagi pesantren dan perguruan tinggi.
Masdar mengatakan, program tersebut berangkat dari perhatian Khofifah terhadap pengembangan keilmuan dan pelestarian turats di lingkungan pesantren Jawa Timur.
“Kami bangga karena program studi ini murni ide dari seorang Ibu Gubernur Khofifah yang peduli pada dunia keilmuan dan pelestarian turats. Kami siap mengawal program ini agar memberikan manfaat dan berkah bagi pesantren dan pendidikan di perguruan tinggi,” ujarnya.
Masdar berharap Pemerintah Provinsi Jawa Timur dapat melanjutkan dukungan beasiswa bagi mahasiswa program tersebut, dengan sasaran minimal 10 penerima setiap tahun.
Ia menilai dukungan pendidikan diperlukan untuk mendorong lebih banyak mahasiswa mendalami pelestarian dan pengkajian khazanah klasik Islam yang mulai jarang dipelajari.
Melalui program magister dan dukungan beasiswa tersebut, UINSA diharapkan dapat memperkuat kesinambungan tradisi keilmuan ulama Nusantara sekaligus memperluas akses generasi muda terhadap warisan intelektual Islam.










