TVRINews, Jombang
Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur bersama OPOP Jatim menggelar Workshop Tata Cara dan Evaluasi Permodalan Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) di Jombang sebagai upaya memperkuat kapasitas pengurus koperasi pesantren dalam mengelola usaha dan permodalan.
Workshop tersebut diikuti 50 pengurus koperasi pondok pesantren dari berbagai daerah di Jawa Timur yang tergabung dalam ekosistem Program One Pesantren One Product (OPOP) Jatim.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman peserta mengenai tata kelola permodalan, evaluasi usaha, serta strategi pengembangan koperasi yang berkelanjutan agar mampu memperkuat kelembagaan dan mengoptimalkan akses pembiayaan.
Kepala Bidang Pembiayaan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur, Arief Lukman Hakim, mengatakan koperasi pesantren memiliki peran strategis dalam mendorong kemandirian ekonomi pesantren sekaligus memberdayakan masyarakat di sekitarnya.
Menurutnya, penguatan koperasi harus diimbangi dengan tata kelola organisasi dan pengelolaan keuangan yang baik agar mampu tumbuh menjadi lembaga ekonomi yang sehat dan profesional.
"Koperasi pesantren harus mampu menjadi lembaga ekonomi yang kuat dan profesional. Oleh karena itu, pengurus koperasi perlu memahami tata cara pengelolaan permodalan, melakukan evaluasi usaha secara berkala, serta memanfaatkan berbagai peluang pembiayaan yang tersedia agar koperasi dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi pesantren maupun masyarakat," ujar Arief.
Pada sesi pertama, Hery Istanto dari Bappeda Provinsi Jawa Timur memaparkan roadmap kemandirian ekonomi pesantren melalui sinergi Program OPOP. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pesantren, koperasi, lembaga keuangan, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem ekonomi pesantren yang berkelanjutan.
"Kemandirian ekonomi pesantren tidak dapat dibangun secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi seluruh pihak agar pesantren memiliki ekosistem usaha yang kuat," kata Hery.
Sementara itu, Siti Umi Hanik dari Bank Jatim Syariah menjelaskan mekanisme akses permodalan bagi koperasi pesantren. Menurutnya, koperasi yang memiliki administrasi, legalitas, dan laporan keuangan yang tertib akan lebih mudah memperoleh pembiayaan.
"Akses permodalan akan lebih mudah diperoleh apabila koperasi memiliki tata kelola yang baik dan administrasi yang tertib," jelas Siti Umi Hanik.
Pada sesi terakhir, Dzikrullah dari Bidang Santripreneur OPOP Jatim memaparkan perkembangan koperasi pesantren dalam ekosistem OPOP. Ia menyebut banyak pesantren mulai berhasil mengembangkan produk unggulan, memperbaiki manajemen usaha, dan memperluas jaringan pemasaran.
"Pesantren memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi umat. Melalui Program OPOP, kami terus mendorong lahirnya koperasi yang kuat, santripreneur yang inovatif, serta produk-produk unggulan pesantren yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas," ujarnya.
Melalui workshop ini, Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur bersama OPOP Jatim berharap koperasi pondok pesantren semakin siap menghadapi tantangan pengelolaan usaha dan permodalan sehingga mampu menjadi koperasi yang mandiri, profesional, dan berdaya saing.










