TVRINews, Jember
Krisis air bersih dampak dari bencana kekeringan di Kabupaten Jember kian meluas. Tercatat sebanyak 2.033 kepala keluarga di 10 kecamatan kini mengandalkan dropping air bersih dari BPBD setempat.
Desa Mrawan, Kecamatan Mayang, menjadi salah satu wilayah terdampak kekeringan yang terus mengandalkan dropping air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember.
Kepala BPBD Kabupaten Jember, Edy Budi Susilo, mengatakan untuk mempermudah warga mendapatkan air, BPBD Jember menempatkan tandon air di beberapa titik yang diisi setiap dua hari sekali oleh truk tangki dari BPBD, perusahaan air minum milik daerah, dan beberapa instansi terkait.
“Berdasarkan data kami himpun tercatat sebanyak 2033 Kepala keluarga di 10 Kecamatan yang tersebar di 10 Desa dan 5 Kelurahan mengalami krisis air bersih dampak dari kekeringan di musim kemarau ini. Kita dua hari sekali dropping kebutuhan air bersih untuk warga yang terdampak karena sumber air yang mongering,” ujar Edy, dikutip Jumat, 25 September 2026.
Edy Budi Susilo menambahkan, selain Desa Mrawan, Kecamatan Mayang, krisis air bersih juga berdampak di wilayah Kecamatan Pakusari, termasuk Desa Sumber Pinang dan Desa Jatian.
Sedangkan di wilayah kota, kekeringan melanda Kelurahan Baratan dan Kelurahan Bintaro, Kecamatan Patrang, serta sebagian wilayah Kecamatan Kaliwates.
BPBD Kabupaten Jember mengimbau warga untuk lebih berhemat dalam penggunaan air bersih agar tidak mengalami krisis air bersih seperti yang terjadi di wilayah lain.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember bersama Provinsi Jawa Timur telah menyalurkan total 1.700.500 liter air bersih hingga akhir September 2026.
Kolaborasi armada untuk pendistribusian dilakukan secara berkala menggunakan truk tangki dari BPBD, Palang Merah Indonesia (PMI), Perumdam Tirta Pandalungan (PDAM), serta Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKL).










