TVRINews, Probolinggo
Seorang petani muda asal Kelurahan Triwung Lor, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, sukses membudidayakan melon premium menggunakan sistem hidroponik. Memanfaatkan lahan kosong, Bagas Satria mengubahnya menjadi greenhouse untuk membudidayakan melon dengan kualitas premium.
Dalam beberapa hari terakhir, puluhan ibu-ibu terlihat datang silih berganti ke lokasi budidaya. Mereka bahkan dapat memetik langsung buah melon yang telah matang, kemudian membayarnya dengan harga sekitar Rp30.000 per buah.
Ada dua jenis melon premium yang ditanam di dalam greenhouse tersebut. Varietas pertama adalah The Blues, yang memiliki cita rasa manis dengan tekstur daging buah renyah. Sementara varietas lainnya adalah Sweet Net 9, yang memiliki rasa lebih manis dari The Blues dan warna kulit luar yang lebih cerah.
Pola budidaya melon premium yang dikelola Bagas Satria ini bermula dari keinginannya memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang. Petani berusia 40 tahun tersebut ingin menghasilkan buah melon dengan kualitas premium dan cita rasa yang mampu memenuhi selera konsumen.
Selain memiliki rasa manis, melon yang dibudidayakan Bagas juga memiliki tekstur daging buah yang renyah dengan kandungan air yang cukup tinggi, sehingga memberikan sensasi berbeda saat disantap.
Salah seorang pengunjung, Vony Amalia, mengaku menikmati pengalaman memetik melon bersama anak dan cucunya. Ia juga berkesempatan mencicipi kedua varietas melon yang tersedia.
“Rasanya memang mantap, manis semua. Tapi yang ini lebih berair, kalau yang itu lebih crunchy, suaranya kalau dimakan kres,” ujar Vony Amalia.
Budidaya melon di dalam greenhouse juga memberikan lingkungan yang lebih terkontrol dibandingkan budidaya di lahan terbuka.
Penggunaan greenhouse dipilih karena dapat membantu menghambat serangan hama dan penyakit tanaman. Sementara sistem hidroponik memungkinkan pengelola mengatur kebutuhan nutrisi dan pupuk tanaman secara lebih terukur.
Meski demikian, hama tetap menjadi salah satu kendala yang harus diantisipasi. Bagas mengatakan, serangan hama di dalam greenhouse masih dapat dikendalikan dan relatif lebih mudah ditangani dibandingkan budidaya di lahan terbuka.
“Meski demikian, hama tetap menjadi salah satu kendala yang harus diantisipasi. Namun, keberadaan hama tersebut masih dapat dikendalikan oleh pengelola. Kalau kesulitannya lebih ringan daripada kita tanam di luar greenhouse atau di hamparan. Kendala ada di hama di dalam greenhouse, tetapi bisa dikendalikan,” jelas Bagas.
Dari sisi pemasaran, usaha melon premium milik Bagas juga mulai menunjukkan hasil. Produksi melon kualitas premium tersebut telah memiliki pangsa pasar dan dipasarkan ke sejumlah minimarket di Kota Probolinggo.
Memasuki panen ketiga, Bagas mulai membuka lokasi budidayanya untuk masyarakat umum. Pengunjung tidak hanya dapat membeli melon, tetapi juga merasakan pengalaman memetik langsung buah melon premium dari greenhouse.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Bagas memperluas pasar sekaligus memperkenalkan budidaya melon premium kepada masyarakat.










