TVRINews, Tulungagung
Pasar Jenang Mbak Yun di Tulungagung kini tidak lagi hanya mengandalkan toko oleh-oleh dan wisatawan yang datang langsung. Usaha keluarga yang dirintis sejak 1990-an itu mulai memperluas jangkauan pemasaran melalui media sosial dan platform perdagangan daring.
Apriliya Izna, generasi penerus Jenang Mbak Yun, memanfaatkan kanal digital untuk memperkenalkan produk keluarganya kepada konsumen di luar Tulungagung. Perubahan pola pemasaran tersebut membuat jenang yang diproduksi secara tradisional kini dapat dikirim ke berbagai daerah, seperti Jakarta, Bali, dan Balikpapan.
Produk Jenang Mbak Yun bahkan pernah dikirim hingga Hong Kong dan Taiwan.
Bagi April, digitalisasi tidak sekadar mengubah tempat berjualan. Cara berinteraksi dengan konsumen juga ikut berubah. Ia harus membuat konten, melakukan siaran langsung, menjawab pertanyaan calon pembeli, mengatur pesanan, menyiapkan kemasan, hingga memastikan produk tiba dalam kondisi baik.
"Omzet tertinggi itu pernah Rp13 juta dalam satu hari. Kalau dulu saya sendiri yang jualan live TikTok, tapi sekarang sudah ada karyawan yang live. Sehari sekitar empat jam, mulai pagi jam delapan sampai jam dua belas. Kalau ada waktu, sore saya sendiri yang live lagi," ujar April.
Perubahan pola pemasaran tersebut membuat usaha yang sebelumnya bergantung pada pasar konvensional memiliki akses kepada konsumen yang lebih luas. Calon pembeli tidak harus datang ke Tulungagung untuk mengenal produk, tetapi dapat menemukannya melalui unggahan media sosial, video pendek, siaran langsung, maupun platform perdagangan daring.
Meski cara menjual berubah, proses produksi Jenang Mbak Yun tetap mempertahankan metode yang diwariskan keluarga.
Beras ketan, gula merah, dan kelapa menjadi bahan utama. Dalam satu kali produksi, dibutuhkan sekitar 30 kilogram beras ketan, 30 kilogram gula merah, dan 30 butir kelapa.
Seluruh bahan tersebut dimasak dalam wajan besar menggunakan tungku berbahan bakar kayu. Adonan harus terus diaduk hingga sekitar delapan jam sebelum menghasilkan jenang dengan tekstur dan cita rasa yang khas.
"Kita sengaja tetap menggunakan kayu bakar dan cara tradisional, agar rasanya tetap klasik," tambah April.
Proses produksi yang masih dilakukan secara manual juga melibatkan tenaga kerja dari lingkungan sekitar. Dengan demikian, keberadaan usaha tersebut tidak hanya mempertahankan resep keluarga, tetapi turut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar tempat produksi.
Di satu sisi, April mempertahankan tungku kayu, bahan baku, dan resep yang telah diwariskan sejak 1990-an. Di sisi lain, ia harus mengikuti pola pasar digital yang bergerak cepat, mulai dari membuat konten, menjaga interaksi dengan calon pembeli, mengikuti tren, mengatur stok, hingga memastikan pesanan dapat dikirim ke berbagai daerah.
Tantangan usaha pun tidak lagi sebatas menjaga kualitas jenang. Produk yang telah selesai dibuat harus dikemas agar aman selama perjalanan. Pesanan perlu dikelola, sementara promosi harus dilakukan secara konsisten untuk menjangkau konsumen yang belum pernah datang ke Tulungagung.
Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana digitalisasi membuka peluang baru bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Jika sebelumnya lokasi toko menjadi salah satu faktor penting dalam mendapatkan pembeli, kini usaha yang berada di lingkungan permukiman pun dapat menjangkau konsumen di kota lain selama produknya dapat ditemukan melalui kanal digital.
Bagi Jenang Mbak Yun, teknologi menjadi sarana untuk memperluas pasar tanpa harus meninggalkan cara produksi yang telah dipertahankan selama puluhan tahun.
Dari tungku kayu di Tulungagung, jenang yang dibuat dengan cara tradisional kini dipasarkan melalui layar ponsel. Pasarnya tidak lagi berhenti di depan toko, tetapi dapat menjangkau berbagai kota hingga ke luar negeri.










