TVRINews, Surabaya
Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) menerjunkan Tim Trauma Healing guna membantu pemulihan psikologis warga terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang pada 15 Agustus lalu berdampak di sejumlah wilayah, di antaranya Nagekeo, Bajo, Sikka, Ende, Reo, Lambaleda, hingga Riung.
Bagian Psikologi Biro SDM Polda Jatim pimpinan Iptu Ellan Wahyudi mengerahkan personel untuk memberikan bantuan pendampingan psikologis, konseling awal, edukasi pengelolaan stres, serta terapi interaktif di lokasi terdampak bencana.
Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Jules Abraham Abast menyampaikan bahwa kehadiran personel Polri merupakan bentuk komitmen pelayanan publik untuk mempercepat fase pemulihan pascabencana.

(Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Jules Abraham. [Foto: TVRI Jawa Timur])
"Dukungan psikososial ini diharapkan dapat membantu masyarakat kembali merasa aman, mengurangi kecemasan, dan membangun kembali semangat untuk beraktivitas,” kata Kombes Abast, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Tim psikologi menerapkan serangkaian metode terapi interaktif yang disesuaikan dengan kebutuhan para penyintas di lapangan, seperti teknik USEFT, Butterfly Hug, hingga terapi bermain bagi anak-anak.
"Metode tersebut disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat yang terdampak. Pendekatan dilakukan secara humanis dan disesuaikan dengan kondisi penyinta," jelas Kombes Abast.
Selain menyasar anak-anak, pendampingan juga diberikan kepada para orang tua agar mampu mengenali gejala stres dini sekaligus menjadi pendukung utama bagi keluarga yang mengalami tekanan psikologis.

Langkah intervensi psikososial ini merupakan bagian dari gerakan bersama yang dikoordinasikan oleh Biro Psikologi SSDM Polri. Kegiatan ini turut melibatkan kolaborasi personel psikologi dari Polda Jateng, Polda Bali, Polda NTB, dan Polda NTT.
Melalui sinergi lintas wilayah ini, Polri berkomitmen untuk memperkuat mental masyarakat agar segera bangkit pascamusibah.
“Kami berharap kehadiran tim trauma healing dapat memberikan penguatan bagi masyarakat, bukan hanya membantu mengurangi dampak psikologis akibat gempa, tetapi juga memperkuat solidaritas dan menumbuhkan harapan agar masyarakat bisa bangkit dan menata kembali kehidupannya,” pungkas Kombes Abast.










