TVRINews, Surabaya
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Bambang Haryo Soekartono, menyoroti aspek kebersihan dan kualitas cita rasa pada dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Siwalankerto, Surabaya. Hal tersebut ia sampaikan saat meninjau langsung operasional dapur yang memproduksi ribuan porsi Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi pelajar setiap harinya.
Dalam kunjungan tersebut, Bambang Haryo menyampaikan sejumlah catatan penting demi mengoptimalkan manfaat program prioritas nasional itu. Ia menekankan bahwa standar kebersihan dan kenyamanan lingkungan kerja harus menjadi perhatian serius pengelola dapur.
“Perlu ada perbaikan dari sisi kebersihan. Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sudah cukup bagus walaupun masih bisa ditingkatkan lagi. Kemudian proses produksinya juga perlu dimaksimalkan,” ujar Bambang Haryo di Surabaya, Kamis 6 Mei 2026.
Selain aspek higienitas, politikus yang akrab disapa BHS itu menilai kondisi dapur yang masih terasa panas dapat mengganggu efektivitas kerja petugas. Faktor kenyamanan ini, menurutnya, turut memengaruhi kualitas hasil olahan makanan yang didistribusikan ke sekolah-sekolah.
Tidak hanya menyoroti infrastruktur dapur, BHS juga memberikan perhatian khusus pada cita rasa makanan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari terdistribusinya porsi makanan, melainkan juga dari sejauh mana makanan itu dikonsumsi habis oleh siswa.
“Siswa tentu menginginkan rasa yang enak dan jumlah yang cukup. Kita harapkan produk MBG ini dimakan habis sehingga tidak ada sisa,” tegasnya.
BHS menjelaskan, setiap porsi makanan MBG telah melalui kalkulasi kandungan gizi yang presisi. Jika makanan bersisa, maka asupan gizi yang diterima siswa tidak akan optimal. Oleh karena itu, kualitas rasa menjadi elemen krusial yang tidak dapat ditawar demi tercapainya tujuan utama program, yaitu pemenuhan gizi seimbang.
Di sisi lain, BHS turut menanggapi isu yang beredar mengenai sejumlah dapur MBG yang terpaksa menghentikan operasi sementara akibat kendala pendanaan. Ia mengaku belum menerima pelaporan resmi, namun meminta pemerintah memastikan kelancaran arus modal kerja agar distribusi makanan tidak terhambat.
“Permasalahan utama SPPG tentu masalah modal. Jangan sampai ada hambatan finansial karena itu bisa memengaruhi operasional dan kualitas penyajian makanan kepada siswa,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Siwalankerto, Yusuf, menyatakan pihaknya berkomitmen menjalankan setiap arahan yang diberikan. Ia mengklaim telah menerapkan sistem pengawasan kebersihan dan sanitasi secara ketat melalui jadwal piket harian bagi staf dan relawan.
Yusuf menambahkan, evaluasi menu dilakukan secara berkala dengan pendekatan kearifan lokal. Langkah ini diyakini mampu meningkatkan penerimaan siswa terhadap makanan yang disajikan.
Dengan sinergi antara pengawasan legislatif dan perbaikan teknis di lapangan, program MBG diharapkan dapat berjalan lebih efektif. Komitmen bersama menjaga standar kebersihan, kenyamanan dapur, dan kualitas rasa menjadi kunci mewujudkan generasi penerus yang lebih sehat dan cerdas melalui asupan gizi yang terpenuhi.










