TVRINews, Banyuwangi
Sejumlah pemangku kepentingan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, sepakat memangkas waktu bongkar muat atau port time kapal dari sekitar 30 menit menjadi 15 menit.
Kebijakan tersebut diterapkan untuk menambah jumlah perjalanan kapal sekaligus meningkatkan kapasitas angkut dan mengurai antrean kendaraan.
Keputusan tersebut diambil dalam rapat bersama anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono atau BHS.
Rapat tersebut melibatkan PT ASDP Indonesia Ferry, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD), Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap), Dinas Perhubungan, kepolisian, TNI, serta pemangku kepentingan lainnya.
BHS mengatakan para pemangku kepentingan sepakat menambah jumlah perjalanan kapal, baik yang beroperasi di Dermaga Landing Craft Machine (LCM) maupun Dermaga Movable Bridge (MB), dengan mempercepat proses bongkar muat.
“Dengan pemangkasan waktu bongkar muat ini ada penambahan kapasitas angkutan lebih dari 50 persen dalam satu hari. Penambahan kapasitas angkut ini bisa menggantikan kapasitas angkut yang turun 20 persen akibat adanya peningkatan kapasitas Dermaga MB II Pelabuhan Gilimanuk dan Dermaga Ponton Pelabuhan Ketapang,” ujar BHS, Senin (28 September 2026).
Skema pemangkasan waktu bongkar muat tersebut langsung diberlakukan pada hari yang sama. Penerapan kebijakan ini diharapkan dapat mempercepat pergerakan kendaraan dan mengurangi antrean di jalur menuju Pelabuhan Ketapang.
BHS meminta seluruh operator kapal mematuhi skema yang telah disepakati agar jumlah perjalanan dan kapasitas angkutan dapat meningkat.
“Seluruh operator kapal harus mematuhi skema yang telah disepakati ini agar jumlah trip dan kapasitas angkut setiap kapal bisa bertambah. Saya sangat prihatin dan mohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat yang ingin menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk atau sebaliknya atas kemacetan ini,” katanya.
General Manager ASDP Cabang Ketapang, Media Syahrianto, mengatakan percepatan waktu bongkar muat menjadi salah satu langkah yang dinilai efektif untuk mengurai antrean kendaraan.
“Paling efektif memang mempercepat waktu, dari 35 menjadi 15 menit. Ini harus kami terapkan agar antrean di luar bisa dikuras secara bertahap,” ujar Media.
Menurut Media, pemangkasan port time memungkinkan proses bongkar dan pemuatan kendaraan berlangsung lebih cepat.
Namun, penerapannya membutuhkan komitmen seluruh pihak agar target peningkatan jumlah perjalanan kapal dapat tercapai.
ASDP optimistis skema tersebut dapat berjalan dengan baik selama kondisi cuaca mendukung.
Penerapan waktu bongkar muat yang lebih singkat juga diharapkan dapat memaksimalkan kapasitas layanan penyeberangan sekaligus menjadi persiapan menghadapi potensi peningkatan arus kendaraan menjelang libur Natal dan Tahun Baru.










