TVRINews, Yogyakarta
Kenaikan harga minyak bumi dan gas dunia akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah berdampak pada semakin mahalnya harga gas elpiji non subsidi yang dijual di berbagai daerah.
Di Kabupaten Kulon Progo, harga gas elpiji non subsidi ukuran 5 kilogram dan 12 kilogram terpantau naik signifikan dalam beberapa waktu terakhir, terlebih setelah nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat.
Di tingkat pangkalan, harga gas elpiji non subsidi mengalami lonjakan hingga sekitar 30 persen per tabung. Gas elpiji ukuran 5 kg misalnya, naik dari kisaran Rp95 ribu menjadi Rp120 ribu per tabung. Sementara gas elpiji 12 kg yang sebelumnya dijual Rp195 ribu, kini melonjak menjadi Rp235 ribu per tabung.
Kondisi ini berdampak langsung terhadap penurunan penggunaan gas elpiji non subsidi di tingkat konsumen. Tidak sedikit pelaku UMKM, seperti rumah makan, laundry, hingga katering, mengurangi pembelian mereka akibat kenaikan harga tersebut.
Sebelumnya, pedagang gas mampu menjual 20 hingga 30 tabung elpiji ukuran 5 kg per bulan. Namun kini, penjualan hanya berkisar 10 tabung per bulan. Sementara untuk elpiji 12 kg, penjualannya hanya sekitar 5 tabung per bulan.
“Dampaknya paling terasa di warung makan. Biasanya mereka masih merasa penggunaan gas non subsidi itu masih masuk hitungan biaya usaha, tetapi sekarang sudah tidak masuk hitungan lagi,” kata salah satu pedagang elpiji, Yanuar Dani Lanang Setiawan, Jumat, 22 Mei 2026.
Ia menambahkan, penjualan gas juga mengalami penurunan drastus.
“Kalau dulu dalam satu bulan bisa menjual sampai 30 tabung, sekarang menjual 10 tabung saja sudah berat,” ucapnya.
Meski harga gas non subsidi melambung tinggi, harga gas melon di tingkat pangkalan masih relatif normal, yakni di kisaran Rp18 ribu per tabung. Para pedagang berharap pemerintah segera menstabilkan harga gas elpiji agar daya beli masyarakat kembali normal.








