TVRINews, Jombang
Ketua Umum Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) KH Asep Saifuddin Chalim meminta Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menjadi momentum untuk memperkuat kembali peran ulama dalam menentukan arah organisasi.
Pesan tersebut disampaikan Kiai Asep dalam Dialog Publik “Transformasi-Orientasi Kepemimpinan Nahdlatul Ulama Abad II” yang digelar Jurnalis Pokja Grahadi bersama JKSN di Aula JKSN, menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, akhir Agustus 2026.
Kiai Asep menilai pembahasan mengenai masa depan NU tidak dapat dilepaskan dari sejarah kelahirannya. Menurutnya, NU tumbuh dari lingkungan pesantren dan dibangun oleh para ulama sebagai wadah untuk menyatukan kekuatan dalam menghadapi persoalan keumatan dan kebangsaan.
Ia menuturkan, pesantren telah menjadi pusat pendidikan sekaligus perjuangan jauh sebelum Indonesia merdeka. Namun, kekuatan yang tersebar di masing-masing pesantren dinilai membuat gerakan tersebut lebih mudah dilemahkan.
“Sentral-sentral perlawanan adalah pondok-pondok pesantren, tetapi mudah dilumpuhkan karena berdiri sendiri-sendiri,” ujar Kiai Asep pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Dari kondisi tersebut, kata dia, muncul berbagai upaya membangun organisasi yang dapat menyatukan kekuatan pesantren. Salah satunya melalui Nahdlatul Wathan yang dibentuk di Surabaya pada 1916 sebagai lembaga kaderisasi.
Perkembangan gerakan tersebut kemudian berlanjut hingga berdirinya NU pada 1926. Kiai Asep menyebut sejumlah tokoh pesantren, termasuk KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Hasyim Asy’ari, memiliki peran penting dalam proses tersebut.
Menurutnya, KH Hasyim Asy’ari sejak awal menginginkan organisasi yang dibangun bukan berdasarkan kepentingan pribadi, melainkan berasal dari lembaga-lembaga pesantren yang diwakili para ulama.
“Kesimpulannya bahwa Nahdlatul Ulama itu adalah rumah besarnya pesantren, organisasi yang didirikan oleh pesantren-pesantren besar oleh tokoh-tokohnya. Dominannya adalah Syuriyah,” katanya.
Kiai Asep juga menyinggung dinamika sejumlah muktamar sebelumnya. Ia menyebut terdapat mekanisme dalam penyelenggaraan maupun pengambilan keputusan yang menurutnya perlu dievaluasi.
Ia berharap persoalan tersebut tidak kembali terjadi pada Muktamar ke-35. Menurutnya, forum tersebut harus mampu memastikan proses pengambilan keputusan berjalan dengan baik dan tetap berpijak pada karakter NU sebagai organisasi ulama.
“NU harus dikendalikan oleh ulama, jangan diatur oleh anak-anak muda yang berapa jumlahnya, berapa segelintir, kemudian mereka mengendalikan muktamar dengan kedzaliman-kedzaliman,” tegasnya.
Bagi Kiai Asep, Muktamar ke-35 tidak semata-mata berkaitan dengan pergantian kepemimpinan. Forum tersebut harus menjadi kesempatan untuk mengembalikan marwah NU sekaligus memperjelas kembali arah organisasi memasuki abad kedua.
Ia mengingatkan dua gagasan besar yang melekat dalam sejarah awal NU, yakni perjuangan kemerdekaan Indonesia dan pengembangan Islam Ahlussunnah wal Jamaah di lingkungan pesantren.
“Paham Ahlussunnah wal Jamaah adalah paham inklusif, paham persatuan dan kesatuan yang akan mampu mewujudkan persatuan dan kesatuan,” ujarnya.
Memasuki abad kedua, menurut Kiai Asep, bentuk perjuangan NU perlu menyesuaikan tantangan zaman. Jika generasi terdahulu berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, perjuangan saat ini harus diarahkan untuk memastikan masyarakat benar-benar merasakan hasil kemerdekaan.
“Indonesia merdekanya harus ditransformasi oleh keberhasilan cita-cita luhur kemerdekaan. Kita merdeka, tetapi kita belum merasakan kemerdekaan itu,” tuturnya.
Ia berharap NU dapat terus menjadi kekuatan moral, keagamaan, dan kebangsaan yang memberikan arah bagi masyarakat serta ikut menjaga persatuan Indonesia.
Ketua Jurnalis Pokja Grahadi Fatimartuzzahroh atau Ima mengatakan dialog tersebut merupakan bentuk partisipasi insan pers Jawa Timur dalam menyambut Muktamar ke-35 NU.
Menurut Ima, kegiatan itu sekaligus menjadi ruang untuk membahas gagasan mengenai arah kepemimpinan NU menjelang pelaksanaan muktamar yang akan berlangsung di Jawa Timur.
Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas diharapkan tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi juga membawa rumusan arah organisasi yang mampu menjawab tantangan NU pada abad keduanya.










