TVRINews, Surabaya
Pendopo Pokja Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) di Wisma Kedung Asem Indah, RW 5, Kelurahan Kedung Baruk, Kecamatan Rungkut, Surabaya, menjadi ruang belajar bagi para ibu dan remaja. Melalui program Kelas Remaja-Orang Tua Tangguh, Kreatif, dan Mandiri (KEMANGI), warga diajak memahami cara melindungi keluarga dari berbagai ancaman sosial.
Sebanyak 12 ibu dan 12 remaja mengikuti program yang menjadi bagian dari pilar sosial budaya Kampung Pancasila Kota Surabaya tersebut. Materi yang diberikan mencakup pencegahan penyalahgunaan narkoba, kebiasaan pulang malam, pernikahan dini, hingga seks bebas.
Ketua Kampung Pancasila RW 5 Kampung Mandiri Kedung Asem, Dra. Lisa Astini, M.Si., mengatakan KEMANGI dirancang agar orang tua dan anak remaja dapat belajar serta memahami persoalan yang dihadapi bersama.
“Program KEMANGI mengajak para orang tua dan remaja untuk bisa mengerti. Program ini untuk anak-anak dan orang tua diberi pengertian tentang jauhi narkoba, pulang malam, nikah dini, seks bebas. Untuk orang tua ada dari psikolog, dari PKK kota juga. Pesertanya dua belas ibu dan dua belas anak,” kata Lisa kutip Minggu, 8 November 2026.
Kegiatan biasanya berlangsung di Balai RW pada malam hari sekitar pukul 19.00 WIB. Waktu tersebut dipilih agar ibu-ibu yang bekerja tetap dapat mengikuti kelas. Program ini juga menjadi salah satu ruang edukasi bagi orang tua di lingkungan RW 5.
Salah seorang peserta, Yunita, mengaku mendapatkan pemahaman baru dalam mendampingi anak, terutama ketika mereka mulai berinteraksi lebih luas di luar lingkungan keluarga.
“Alhamdulillah dengan program KEMANGI ini kita jadi lebih paham, sebagai orang tua bisa mendidik anak kita lebih maksimal. Dengan program ini, anak-anak bisa mengerti vape itu fungsinya gimana, baik apa enggak buat dia,” kata Yunita.
Menurutnya, pengetahuan tersebut membantu orang tua memberikan arahan kepada anak, meskipun tidak selalu dapat mengawasi pergaulan mereka setiap saat.
Kampung Mandiri Pertama di Jawa Timur
KEMANGI menjadi salah satu kegiatan di Kampung Mandiri RW 5, Wisma Kedung Asem Indah, yang diresmikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pada 3 Juni 2023 sebagai kampung mandiri perkotaan pertama di Jawa Timur.
Ketua RW 5, Drs. Didik Edy Susilo, M.M., menjelaskan, berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat telah berjalan sebelum program Kampung Pancasila diterapkan. Kegiatan tersebut kemudian dikembangkan melalui empat pilar, yakni lingkungan, ekonomi, kemasyarakatan, dan sosial budaya.
“Kampung Pancasila itu kan merupakan tujuan dari keinginan Bapak Wali Kota untuk memajukan seluruh warga Surabaya, khususnya yang ada di RW-RW ini,” kata Didik.
Menurutnya, peran pemerintah kota melalui lurah dan camat turut membantu keberlangsungan kegiatan warga. Namun, ia mengakui pelaksanaan empat pilar tersebut masih memiliki kekurangan.
“Saya juga tidak terlalu yakin bahwa empat pilar itu kita baik semua, enggak. Tapi yang penting, kita sudah berjuang bahwa pilar-pilar yang ada itu sudah dijalankan oleh warga dengan baik,” ujarnya.
Didik menyebut ibu-ibu kader Surabaya Hebat menjadi salah satu penggerak utama kegiatan Kampung Pancasila di wilayahnya. Karang taruna juga turut memberikan dukungan.
Angklung, Drama, hingga Bank Sampah
Pada pilar sosial budaya, warga RW 5 mengembangkan berbagai kegiatan kesenian. Kelompok angklung ibu-ibu bahkan telah beberapa kali tampil di luar kota, termasuk di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan sejumlah pusat perbelanjaan.
Warga juga melestarikan lagu-lagu Jawa melalui grup bernama Lare Surabaya. Selain itu, ibu dan anak berkolaborasi dalam pertunjukan drama yang diikutsertakan dalam lomba Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).
Sementara itu, kegiatan lingkungan diwujudkan melalui bank sampah bernama Bunakem, singkatan dari Buah Naga Kedung Asem. Bank sampah yang berada di RT 5 tersebut bahkan menerima tabungan sampah dari warga RW lain.
“Di sini ada bank sampahnya, namanya Bunakem. RW sebelah ingin gabung untuk menabung bank sampah di sini ya bisa. Yang kering itu anorganik, yang organik diolah sehingga ada lindi, itu yang menjadi pupuk cair untuk tanaman,” kata Lisa.
Warga juga melakukan pemilahan sampah dari rumah masing-masing. Sampah organik diolah menjadi pupuk cair, sementara sampah anorganik dikumpulkan untuk dikelola melalui bank sampah. Selain itu, tersedia rumah kompos yang turut dikelola warga laki-laki.
Di bidang ekonomi, warga mendapatkan pendampingan pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi halal bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Salah satu usaha yang berkembang adalah Namira Ecoprint, yang memproduksi fesyen ramah lingkungan dengan teknik ecoprint.
Warga juga pernah mengikuti pelatihan deteksi kebakaran bersama petugas pemadam kebakaran. Ke depan, pengembangan keterampilan kerajinan bagi ibu-ibu turut direncanakan.
“Jadi kita secara bertahap pelan-pelan untuk mengajukan dalam hal persiapan Kampung Pancasila ini,” ujar Lisa.
FKPM Jadi Ruang Penyelesaian Masalah Warga
Semangat gotong royong di RW 5 juga terlihat dari keberadaan Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) yang dibentuk sejak 2006.
Ketua RW 5 Didik Edy Susilo menjelaskan, forum tersebut menjadi wadah komunikasi warga dengan kepolisian untuk membantu menyelesaikan persoalan sosial di lingkungan secara internal.
“Kalau ada permasalahan atau gesekan masyarakat, biar nggak dikit-dikit lapor polisi gitu loh. Diselesaikan internal sendiri,” kata Didik.
FKPM juga berperan membantu pengawasan lingkungan dan mendukung petugas keamanan perumahan. Keberadaan forum tersebut diharapkan dapat menjaga keamanan sekaligus memperkuat hubungan antara masyarakat dan kepolisian.
Selain keamanan, kesehatan warga turut menjadi perhatian melalui program R1N1 atau Satu RW Satu Tenaga Kesehatan. Setiap Rabu dan Sabtu, tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan tekanan darah warga serta memberikan rujukan ke puskesmas apabila diperlukan. Posyandu Keluarga juga digelar setiap Rabu pada minggu kedua.
RW 5 Bersiap Hadapi Penilaian Kampung Pancasila
Pelaksanaan program Kampung Pancasila di RW 5 mendapatkan pendampingan dari aparatur sipil negara (ASN) Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Surabaya.
ASN pendamping Kelurahan Kedung Baruk, khususnya RW 5, Novi Darmansyah, mengatakan pendampingan dilakukan untuk memastikan kegiatan warga berjalan sesuai tujuan program pemerintah kota.
“Tugas kami adalah mendampingi pelaksanaan program Kampung Pancasila ini, agar sesuai dengan maksud dan tujuan yang telah digariskan oleh pemerintah kota, yaitu menjaga nilai-nilai Pancasila untuk benar-benar tumbuh dan berkembang di masyarakat melalui empat pilar,” kata Novi.
Program Kampung Pancasila dibentuk melalui Keputusan Wali Kota Surabaya pada 2025 dan diikuti 1.360 RW di seluruh kota. Penilaian dilakukan berdasarkan empat pilar, dengan bobot lingkungan dan ekonomi masing-masing 35 persen, kemasyarakatan 15 persen, serta sosial budaya 15 persen.
Saat ini, program tersebut memasuki verifikasi lapangan tahap II yang berlangsung pada 8–19 November 2026. Sebanyak 200 RW terbaik dijadwalkan diumumkan pada 20 November 2026.
Lisa mengatakan RW 5 mendapat jadwal penilaian pada 19 November. Laporan kegiatan warga juga telah diunggah melalui Aplikasi Sayang Warga. Selain itu, koordinasi dengan Polsek setempat telah disiapkan untuk mendukung proses verifikasi.
“Jadi kita siap untuk menyambut juri, kebetulan kita mendapat penjurian tanggal 19 November ini,” katanya.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, RW 5 berupaya menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai praktik dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari pemberdayaan ekonomi, pengelolaan lingkungan, kegiatan kesenian, hingga edukasi keluarga, seluruhnya bertumpu pada partisipasi dan gotong royong warga.
Bagi warga Kampung Mandiri RW 5, penguatan keluarga menjadi salah satu fondasi penting untuk membangun lingkungan yang aman, mandiri, dan harmonis.










