TVRINews, Surabaya
Ratusan siswa MAN Kota Surabaya memenuhi lapangan sekolah untuk melaksanakan sholat istisqa berjamaah guna memohon penurunan hujan di tengah musim kemarau panjang.
Berbeda dari biasanya, saf terdepan imam hingga mimbar khutbah diisi oleh siswa kelas 11 bernama Sultan Nibras, sementara jajaran guru dan staf mendampingi dari barisan belakang.
Kepala MAN Kota Surabaya, Fathorrahkman mengatakan sholat istisqa ini bukan sekadar pembelajaran praktik ibadah bagi siswa. Di tengah kemarau yang cukup panjang, sholat ini adalah permohonan sungguh-sungguh kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan yang menyejukkan bumi.
Fathorrahkman menjelaskan bahwa seluruh peran dalam kegiatan keagamaan tersebut memang sengaja dipegang oleh para siswa.
“Mulai imam, khotib, hingga takmir yang terlibat. Sementara guru dan staf mendukung dari belakang. Harapannya, doa yang dipanjatkan dikabulkan, kemarau segera dicabut, dan hujan turun menyejukkan," ucapnya pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
Dalam khutbahnya, Sultan Nibras mengingatkan jamaah bahwa sholat istisqa berkaitan erat dengan amalan umat itu sendiri.
Ia menjelaskan bahwa tertahannya hujan dalam ajaran Islam dikaitkan antara lain dengan enggannya menunaikan zakat, maraknya kemaksiatan, kecurangan dalam jual beli, serta putusnya silaturahmi dan kezaliman.
Oleh karena itu, istisqa selalu diawali seruan bertaubat, memperbanyak istighfar, bersedekah, dan berdamai, sebagaimana Firman Allah dalam Surat Nuh ayat 10–11 yang menautkan istighfar dengan turunnya hujan lebat.
Pelaksanaan sholat sunnah dua rakaat di tanah lapang ini diselenggarakan tanpa azan dan iqamah, mengacu pada sunnah Rasulullah SAW saat memohon keberkahan dan perubahan cuaca di kala kekeringan.
Rangkaian sholat istisqa di MAN Surabaya ini menjadi kelanjutan semangat Hari Santri yang baru diperingati sehari sebelumnya, di mana doa warga madrasah kali ini dipanjatkan secara spesifik untuk memohon hujan.










