TVRINews, Sidoarjo
Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono (BHS), meminta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Basarnas meningkatkan kesiapsiagaan di kawasan Lumpur Sidoarjo, Jawa Timur. Ia menilai potensi risiko di wilayah tersebut masih tinggi sehingga diperlukan langkah mitigasi yang lebih komprehensif.
Menurut BHS, meskipun semburan lumpur telah berlangsung sejak 2006, status kebencanaan yang masih melekat tetap menuntut pemerintah untuk menjaga kesiapsiagaan secara optimal. Hal ini penting mengingat kawasan tersebut berada di antara Sesar Porong dan Sesar Watukosek yang memiliki aktivitas geologi dinamis.
Saat melakukan peninjauan di area tanggul, BHS menyoroti sempat terjadinya luapan air dari kolam penampungan beberapa waktu lalu. Ia mengapresiasi langkah cepat Kementerian Pekerjaan Umum dalam penanganan kejadian tersebut, namun menegaskan bahwa potensi ancaman tetap harus diantisipasi.
"BNPB harus menyiapkan mitigasi bencana secara menyeluruh. Harus ada sistem peringatan dini, jalur evakuasi, assembly point atau titik kumpul yang aman, hingga kesiapan logistik dan makanan bagi masyarakat apabila terjadi keadaan darurat,"ujar BHS.
Ia juga mendorong agar BNPB dan Basarnas ditempatkan lebih aktif di sekitar kawasan Lumpur Sidoarjo sebagai bagian dari kesiapsiagaan darurat. Menurutnya, keberadaan lembaga tersebut penting meskipun situasi saat ini masih terkendali.
"Basarnas harus ditempatkan di sini. Walaupun belum ada kondisi darurat, status kebencanaan masih berlaku sehingga kesiapsiagaan harus tetap dijaga. Keselamatan masyarakat tidak boleh menunggu sampai bencana terjadi,"jelasnya.
BHS turut menekankan agar pemerintah pusat tidak mengurangi anggaran penanganan Lumpur Sidoarjo. Ia menilai kegiatan operasional, termasuk pengaliran lumpur ke Sungai Porong, merupakan bagian penting dalam menjaga keselamatan masyarakat sekitar.
"Keselamatan nyawa masyarakat adalah yang utama. Anggaran penanganan kebencanaan jangan dikurangi karena operasional ini harus berjalan secara rutin," tegasnya.
Sementara itu, Perwakilan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), Williams, menyampaikan bahwa upaya mitigasi terus dilakukan untuk menjaga kapasitas tampung kolam lumpur dan stabilitas tanggul. Salah satunya melalui pengaliran lumpur secara berkala dari waduk penampungan.
Ia menjelaskan, kondisi tanggul saat ini masih dalam kategori aman dan terus dipantau menggunakan sejumlah instrumen pemantauan di beberapa titik.
"Kami fokus pada penanganan di permukaan dengan mengalirkan lumpur dari dalam waduk agar kapasitas penyimpanan tetap terjaga. Selain itu, kondisi tanggul terus kami monitor menggunakan sejumlah instrumen yang telah dipasang di beberapa titik,"kata Williams.
Menurutnya, luapan yang sempat terjadi lebih disebabkan oleh faktor curah hujan dan peningkatan volume air, bukan akibat kegagalan struktur tanggul. Ia memastikan pengawasan tetap dilakukan secara berkala untuk menjaga stabilitas kawasan.
"Kalau untuk stabilitas tanggul masih aman. Yang menjadi perhatian utama adalah pengelolaan air agar tidak melimpas dan mengganggu kondisi di sekitar tanggul,"pungkasnya.










