TVRINews, Malang
Kebiasaan duduk berjam-jam di depan laptop mendorong sekelompok mahasiswa Universitas Brawijaya mengembangkan inovasi untuk membantu meningkatkan kesadaran dalam menjaga postur tubuh. Inovasi tersebut diberi nama SPATCH atau Spine Aware Biofeedback Patch.
Tim mahasiswa UB ini berhasil lolos tahap pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa skema Kewirausahaan atau PKM-K melalui pengembangan SPATCH.
Tim terdiri dari Rizka Amalia Putri Ramadhani dari Program Studi Kedokteran serta Siti Alisyah Hujjatul Syahadah, Aminatuzzahra, Sesilia Awanda Sulistyana, dan Bilqis Athaillah Ali As’ad dari Program Studi Bioteknologi. Seluruh anggota merupakan mahasiswa angkatan 2025.
SPATCH dirancang dalam bentuk plester dengan teknologi micro-pressure point. Saat tubuh berada pada posisi yang kurang ideal, bagian tersebut memberikan rangsangan tekanan sebagai biofeedback, sehingga pengguna mendapat pengingat untuk memperbaiki posisi tubuh.
Rizka mengatakan gagasan tersebut muncul dari aktivitas mahasiswa yang banyak menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas dan laporan praktikum di depan komputer.
“Jadi teman-teman bioteknologi itu sering mengerjakan laporan praktikum dan duduk berjam-jam di depan laptop. Dari situ muncul keluhan nyeri pinggang, bahkan ada yang mengalami skoliosis. Akhirnya, kami terpikir untuk membuat alat koreksi postur tubuh,” jelas Rizka.
Dalam pengembangannya, tim menggabungkan kompetensi dari dua bidang keilmuan. Mahasiswa Bioteknologi menangani aspek produksi, sterilisasi, hingga pengujian kelayakan komponen. Sementara mahasiswa Kedokteran berfokus pada aspek yang berkaitan dengan fungsi dan kebutuhan pengguna.
Berbeda dengan brace atau korset koreksi postur, SPATCH dibuat lebih tipis dan tidak menggunakan perangkat elektronik. Dengan demikian, pengguna tidak perlu melakukan pengisian daya. Produk ini juga dikemas dalam bentuk pouch sehingga mudah dibawa dan digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

“Kami ingin membuat inovasi yang relate dengan mahasiswa. Cara pemakaiannya mudah, bisa dibawa ke mana saja, dan harganya terjangkau,” ujar Rizka.
Satu kemasan SPATCH dibanderol Rp35 ribu. Di dalamnya terdapat satu micro-pressure board, tiga buah plester, dan dua alcohol swab.
“Micro-pressure board-nya bisa digunakan berulang kali, sedangkan untuk plesternya hanya sekali pakai,” kata Rizka.
Pengembangan SPATCH dilakukan melalui tahapan research and development atau R&D. Tim melakukan berbagai uji coba untuk menentukan desain serta material yang sesuai.
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah belum banyaknya produk dengan konsep serupa di pasaran. Kondisi tersebut membuat tim harus melakukan sejumlah percobaan hingga menemukan desain dan material yang dinilai sesuai.
Dalam proses pengembangan, tim mendapat pendampingan dari dosen Fakultas Kedokteran UB, Agwin Fahmi Fahanani. Pendampingan mencakup penyusunan dokumen pendukung, termasuk Hak Kekayaan Intelektual atau HKI, serta masukan terkait konstruksi produk.
Setelah memperoleh pendanaan PKM-K, tim akan melanjutkan pengembangan SPATCH dan menargetkan keikutsertaan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional atau PIMNAS. Ke depan, tim juga berencana mengembangkan SPATCH agar dapat diarahkan menjadi produk di bidang alat kesehatan.
“Saya melihat SPATCH punya potensi untuk dikembangkan lebih lanjut di bidang alat kesehatan. Harapannya SPATCH bisa menjadi produk alat kesehatan yang semakin sukses ke depannya dan bisa bermanfaat bagi banyak orang,” pungkas Rizka.










