TVRINews, Sidoarjo
Tim dosen dan mahasiswa keperawatan mengembangkan program pemulihan pasien skizofrenia berbasis komunitas di Yayasan Al Hafish Sidoarjo. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kemandirian pasien sekaligus memperkuat kemampuan keluarga dan pendamping dalam mendukung proses pemulihan.
Program tersebut lahir dari hasil pengkajian awal yang menunjukkan masih rendahnya kemampuan pasien dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sebanyak 70 persen pasien tercatat belum mandiri dalam aktivitas dasar seperti mandi, berpakaian, makan, dan menjaga kebersihan diri.
Selain itu, sekitar 65 persen pasien masih mengalami gejala negatif berupa isolasi sosial dan rendahnya motivasi. Sementara itu, 60 persen caregiver belum pernah memperoleh edukasi formal mengenai perawatan pasien skizofrenia.
Ketua tim pengabdian, Iskandar, menegaskan pemulihan pasien gangguan jiwa tidak hanya bergantung pada pengobatan medis, tetapi juga membutuhkan penguatan fungsi sosial dan kemandirian agar pasien dapat kembali berperan di tengah masyarakat.
"Pasien skizofrenia membutuhkan dukungan yang berkelanjutan. Melalui program recovery berbasis komunitas ini, kami ingin meningkatkan kemampuan self-care pasien sekaligus memperkuat kapasitas caregiver agar proses pemulihan berjalan lebih optimal," ujarnya, Minggu, 21 Juni 2026.
Yayasan Al Hafish saat ini menjadi rumah rehabilitasi bagi sekitar 40 pasien gangguan jiwa yang mengikuti program pendampingan dan rehabilitasi psikososial. Namun, yayasan tersebut belum memiliki sistem rehabilitasi berbasis evidence-based practice yang terstruktur untuk mengukur perkembangan pasien secara berkelanjutan.
Melalui program ini, tim pengabdian akan melaksanakan berbagai kegiatan, mulai dari pelatihan keterampilan hidup sehari-hari, terapi aktivitas kelompok, edukasi kesehatan jiwa, hingga pelatihan komunikasi terapeutik bagi caregiver.
Selain itu, tim juga mengembangkan SMART-Recovery Care System (SRCS), yang mencakup modul recovery, kartu pemantauan perkembangan pasien, serta video edukasi bagi keluarga dan pendamping.
Kondisi di Yayasan Al Hafish mencerminkan tantangan layanan kesehatan jiwa yang masih dihadapi Jawa Timur. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan Survei Kesehatan Indonesia, prevalensi gangguan mental emosional serta gangguan jiwa berat masih menjadi perhatian, terutama di wilayah perkotaan dan daerah dengan tekanan sosial ekonomi yang tinggi.
Sebagai salah satu provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, Jawa Timur membutuhkan penguatan layanan kesehatan jiwa berbasis masyarakat untuk menjawab kebutuhan yang terus meningkat.
Di sisi lain, stigma terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) masih ditemukan di berbagai daerah. Banyak keluarga mengalami kesulitan mengakses layanan rehabilitasi maupun pendampingan setelah pasien menjalani perawatan di rumah sakit. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekambuhan apabila dukungan keluarga dan lingkungan sosial belum berjalan optimal.
Melalui pendekatan berbasis komunitas, program ini diharapkan mampu membantu pasien memperoleh kembali kemampuan sosial dan kemandirian, sekaligus mengurangi beban keluarga dalam proses pendampingan.
Tim pengabdian menargetkan sedikitnya 70 persen pasien mengalami peningkatan kemampuan aktivitas sehari-hari dan 60 persen pasien menunjukkan peningkatan fungsi sosial setelah mengikuti program.
Program ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan kesehatan yang baik dan kesejahteraan, pendidikan berkualitas, serta pengurangan kesenjangan.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga rehabilitasi, keluarga, dan masyarakat diharapkan dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi penyandang gangguan jiwa untuk pulih, hidup mandiri, dan kembali berkontribusi di lingkungan sosial. Program ini juga berpotensi menjadi model penguatan layanan kesehatan jiwa berbasis komunitas yang dapat diterapkan di berbagai daerah di Jawa Timur.










