TVRINews, Surabaya
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur memperkuat sinergi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menghadapi berbagai tantangan sosial di era digital.
Menurutnya, kolaborasi ulama dan umara menjadi kunci untuk mencegah meningkatnya kerentanan sosial sekaligus memperkuat dakwah digital yang moderat, mencerahkan, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Ajakan tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri pengukuhan Pengurus MUI Provinsi Jawa Timur Masa Khidmat 2025–2030 sekaligus pembukaan Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) MUI Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya.
Dalam kegiatan itu, KH. Abdul Halim Soebahar resmi dikukuhkan sebagai Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur menggantikan KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah.
Khofifah menyampaikan apresiasi kepada kepengurusan sebelumnya serta berharap kepengurusan baru dapat memperkuat peran MUI sebagai mitra strategis pemerintah dan pelayan umat.
"Kami meyakini, di bawah kepemimpinan yang baru, MUI Jatim akan terus menjadi pilar penyejuk, pembimbing, sekaligus benteng moral bagi masyarakat Jawa Timur yang berkarakter, religius, moderat, dan majemuk," ujarnya.
Menurut Khofifah, masyarakat saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari penyebaran hoaks, judi online, penyalahgunaan media sosial, hingga dampak perkembangan kecerdasan artifisial (AI).
Ia menilai persoalan tersebut tidak hanya menyasar orang dewasa, tetapi juga anak-anak dan generasi muda.
"Kerentanan sosial banyak terjadi di masyarakat kita, tidak hanya menyasar orang dewasa dan berumur, tetapi juga anak-anak kita, banyak di antara mereka terpapar hal-hal destruktif dari media sosial," katanya.
Ia menegaskan MUI memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar lembaga pemberi fatwa.
Menurutnya, MUI juga menjadi mitra pemerintah dalam membimbing kehidupan beragama, memperkuat ukhuwah, menjaga nilai-nilai Islam yang moderat, serta menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Khofifah juga menyoroti perubahan pola masyarakat dalam memperoleh referensi keagamaan.
Menurutnya, lebih dari 60 persen masyarakat kini mengakses literatur keagamaan melalui platform digital sehingga ruang digital perlu diisi dengan konten dakwah yang kredibel dan memiliki sanad keilmuan yang jelas.
"Tingginya persentase tersebut harus benar-benar dimanfaatkan untuk syiar atau dakwah kita agar apa yang dijadikan referensi oleh masyarakat kita sanadnya benar-benar bersambung dan terhubung," ujarnya.
Karena itu, ia mendorong MUI Jawa Timur melibatkan dai-dai muda yang adaptif terhadap perkembangan teknologi untuk memperkuat dakwah digital.
"Platform digital harus menjadi ruang strategis bagi MUI untuk mendiseminasikan berbagai pemikiran yang mencerahkan, menyejahterakan kehidupan masyarakat, sekaligus memberikan kontribusi terhadap kesehatan mental masyarakat," katanya.
Selain itu, Khofifah mengajak seluruh pihak memperkuat sinergi dalam mempersiapkan generasi muda yang unggul secara intelektual, berkarakter, dan berakhlak mulia, seiring Indonesia memasuki era bonus demografi.
"Mari kita kuatkan sinergi untuk mencetak generasi yang unggul secara intelektual, kokoh akhlaknya, kuat karakter kebangsaannya," ujarnya.
Sementara itu, Ketua MUI Jawa Timur KH. Abdul Halim Soebahar mengatakan kepengurusan baru akan memulai langkah dengan memperkuat pemahaman mengenai peran MUI bagi seluruh pengurus.
Ia menyebut MUI Jawa Timur memiliki 23 badan, komisi, dan lembaga yang didukung tenaga profesional untuk membangun sinergi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.
"Sinergi itu akan terus kita lakukan antara MUI dan kelompok-kelompok strategis baik itu jajaran pemerintahan secara horizontal maupun secara vertikal," katanya.
Ia menambahkan, MUI Jawa Timur juga telah menyiapkan penguatan dakwah melalui platform digital sebagai langkah antisipatif terhadap berbagai persoalan sosial yang dipengaruhi perkembangan media sosial.
"MUI sudah menyiapkan itu sebenarnya, jadi tempo hari kira-kira dua minggu yang lalu kita sudah lakukan audiensi dan itu banyak sekali masukan-masukan bahwa di masyarakat kita sudah banyak terjadi patologi sosial di masyarakat," ujarnya.










