TVRINews, Probolinggo
Musim kemarau yang melanda Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, berdampak terhadap lahan pertanian, terutama di wilayah yang mengandalkan air hujan atau lahan tadah hujan.
Kondisi tersebut membuat sejumlah komoditas pertanian mengalami kerusakan akibat keterbatasan pasokan air dan cuaca ekstrem. Dampak kekeringan dirasakan petani di lereng Gunung Bromo.
Tanaman sayuran seperti daun bawang prei dan kubis mengalami kerusakan. Kondisi tanaman juga diperparah dengan paparan belerang dari aktivitas Gunung Bromo yang membuat sebagian tanaman mati dan mengering.

Salah seorang petani di lereng Gunung Bromo, Pujianto Diansyah, mengatakan kekeringan tahun ini menyebabkan petani mengalami kerugian. Selain kekurangan air, suhu yang mencapai sekitar lima derajat Celsius serta paparan belerang dari kawah Gunung Bromo turut memengaruhi kondisi tanaman.
Sumber air yang menyusut drastis membuat puluhan hektare lahan pertanian kekurangan pasokan air dan menjadi kering.
“Tanaman kekeringan air ini sudah beberapa minggu dan sangat merugikan petani karena hasil panenan tidak sesuai harapan. Tanaman daun bawang prei dan kubis rusak dan mengering,”ujar Pujianto.
Menurut Pujianto, tanaman kentang menjadi salah satu komoditas yang mengalami kerusakan paling parah. Hampir seluruh tanaman kentang di lahan petani tidak dapat diselamatkan akibat kondisi cuaca ekstrem.
“Kekeringan yang melanda seluruh desa di Lereng Gunung Bromo sudah berlangsung dalam beberapa bulan, tanaman kentang yang biasanya menjadi komoditas andalan petani di Desa ini juga tidak bisa dipanen akibat rusak parah,”tandasnya.
Selain berdampak terhadap sektor pertanian, kondisi cuaca ekstrem juga diperparah dengan kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Bromo dalam beberapa pekan terakhir.
Asap akibat kebakaran turut menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar lereng Gunung Bromo.








