TVRINews, Surabaya
Kapoksi Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono (BHS), mengajak masyarakat Kota Surabaya untuk memperkuat pemahaman nilai-nilai kebangsaan di tengah gempuran disrupsi digital. Ajakan tersebut disampaikan dalam sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang dihadiri para tokoh masyarakat setempat.
Kegiatan yang mengusung semangat Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika ini digelar sebagai respons atas derasnya arus informasi di era digital. BHS menilai, percepatan teknologi tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga membuka celah masuknya paham-paham yang berpotensi menggerus jati diri bangsa.
“Harapannya, nilai-nilai Empat Pilar dapat dipahami dan disebarluaskan kepada masyarakat sehingga menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar BHS di hadapan peserta, Surabaya, Kamis, 7 Agustus 2026.
Politisi yang juga Kapoksi Komisi VII DPR RI itu menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan pelaksanaan amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD. Dalam regulasi tersebut, anggota DPR RI wajib melaksanakan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan secara berkelanjutan di daerah pemilihannya masing-masing.
Pada kesempatan yang sama, akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Dr. Darsono, mengingatkan bahwa era digital telah mengubah lanskap sosial secara fundamental. Menurutnya, informasi bergerak sangat cepat melintasi batas ruang dan waktu tanpa tersaring.
Kondisi demikian, kata Darsono, membuka peluang bagi masuknya ideologi transnasional yang tidak sejalan dengan Pancasila. Generasi muda yang hidup dalam keseharian banjir informasi digital menjadi kelompok paling rentan kehilangan orientasi kebangsaan.
“Perubahan sosial yang cepat harus diimbangi dengan penguatan nilai kebangsaan. Tanpa fondasi ideologi yang kokoh, generasi muda berisiko kehilangan arah di tengah banjir informasi,” jelasnya.
Darsono menambahkan, penyegaran nilai-nilai kebangsaan tidak hanya penting bagi generasi muda, melainkan juga bagi para pemimpin di tingkat akar rumput. Ketua RT, RW, hingga tokoh masyarakat dinilai sebagai ujung tombak yang berinteraksi langsung dengan warga.
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, menyoroti peran krusial generasi Z dan milenial sebagai kelompok paling potensial. Di satu sisi mereka rentan terhadap pengaruh negatif, namun di sisi lain memiliki peran besar dalam menentukan arah masa depan bangsa.
“Tidak cukup dipahami, tetapi juga harus diamalkan. Nilai-nilai Empat Pilar harus hidup dalam tindakan sehari-hari dan ditularkan dari satu individu ke individu lainnya,” tegas Cahyo.
Para peserta sosialisasi diharapkan menjadi perpanjangan tangan untuk menyebarluaskan nilai-nilai kebangsaan di lingkungan masing-masing. Dengan semangat gotong royong dan persatuan, mereka optimistis Empat Pilar Kebangsaan dapat terus diwariskan sebagai bekal menyongsong Indonesia Emas 2045.









