TVRINews, Surabaya
Pinjaman sampai Rp100 juta tanpa agunan dengan bunga 6 persen setahun. Fasilitas Kredit Usaha Rakyat itu disosialisasikan kepada pelaku ekonomi kreatif Surabaya dalam kegiatan Bimbingan Teknis Literasi Bisnis di Hotel Elmi, Surabaya, Sabtu 7 November 2026.
Bimtek Literasi Bisnis bagi Pelaku Usaha Ekonomi Kreatif itu digelar DPR RI bersama Kementerian Ekonomi Kreatif dalam rangka Aktivasi Desa Kreatif.
Tujuannya membuka jalan pendanaan bagi usaha pemula sekaligus menggerakkan sektor ekonomi kreatif Surabaya.
Bagi Kapoksi Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS), KUR adalah salah satu jalan pembiayaan yang bisa dipakai pelaku usaha untuk membesarkan bisnisnya.
"KUR ini difasilitasi pemerintah dengan bunga sangat kecil, 6 persen setahun. Peminjaman sampai Rp100 juta tanpa agunan. Ini bisa menjadi daya tarik bagi calon pengusaha untuk mendapatkan pendanaan dan menyalurkan kreativitas melalui produk-produk mereka," ujar BHS.
Bagi BHS, syarat yang ringan bisa membuka pintu bagi pelaku usaha yang selama ini mentok di modal. Buktinya, sejumlah peserta bimtek langsung menunjukkan minat mengakses KUR.
Untuk usaha mikro, syarat pengajuan KUR terbilang sederhana. Surat keterangan usaha dari kelurahan bisa dipakai sebagai syarat, dan Nomor Induk Berusaha tidak selalu wajib, tergantung skema pembiayaan yang diambil.
Namun BHS mengingatkan, urusan ekonomi kreatif tidak selesai hanya dengan mempermudah pinjaman. Yang justru dibutuhkan pelaku usaha adalah pendampingan pemerintah, supaya modal yang didapat bisa dikelola dan bisnisnya tumbuh berkelanjutan.
Karena itu ia meminta anggaran Kementerian Ekonomi Kreatif jangan dipangkas. Kementerian itu, kata BHS, punya peran mendampingi usaha baru, dari sertifikasi dan perizinan sampai manajemen bisnis dan pemasaran.
"Permasalahan utama ekonomi kreatif dan usaha-usaha ini mungkin justru pendampingan dari pemerintah. Kementerian Ekonomi Kreatif harus mendampingi usaha baru, mulai dari sertifikasi, perizinan, manajemen, pengemasan produk sampai pemasaran digital," tegasnya.
Menurut BHS, produk yang kreatif saja tidak cukup. Kemasan yang baik dan strategi pemasaran yang tepat harus menyertainya, supaya produk sampai ke konsumen yang lebih luas.
BHS juga memaparkan angka kontribusi ekonomi kreatif. Secara nasional, sektor ini menyumbang sekitar 6 persen produk domestik bruto. Di Surabaya angkanya lebih tinggi, 7,5 hingga 7,8 persen.
Tiga subsektor yang dinilainya paling potensial menggerakkan ekonomi kreatif adalah kuliner, fesyen, dan kriya.
Dari Kementerian Ekonomi Kreatif, Anggara Hayun Anujuprana dari Direktorat Pengembangan Akses Pendanaan, Pembiayaan, dan Investasi mengatakan bimtek ini disiapkan supaya pelaku ekonomi kreatif tidak gagap saat berhadapan dengan lembaga keuangan.
Di kegiatan itu peserta dikenalkan pada berbagai produk pembiayaan untuk mengembangkan usaha, termasuk KUR yang disosialisasikan Bank Mandiri.
"Kami ingin menyiapkan para pelaku ekonomi kreatif apabila dipertemukan dengan lembaga keuangan. Tadi Bank Mandiri sudah menyampaikan produk-produk keuangan yang bisa dimanfaatkan, salah satunya KUR," jelas Anggara.
Anggara berharap minat peserta itu berlanjut ke fasilitasi perbankan, sehingga pelaku usaha yang memenuhi syarat benar-benar mendapat akses modal.
Dari pihak perbankan, Regional Micro dan Consumer Head PT Bank Mandiri Suyadi menyatakan kesiapannya mendukung program pembiayaan pemerintah, termasuk penyaluran KUR untuk usaha mikro dan ekonomi kreatif.
Di luar pembiayaan, Bank Mandiri juga menjalankan program pengembangan wirausaha lewat Wirausaha Muda Mandiri (WMM). Pendaftarannya dibuka 15 Oktober sampai 15 November 2026 untuk sejumlah bidang, antara lain teknologi informasi, fesyen, kuliner, dan kesehatan.
Tahun ini target pendaftar WMM sekitar 5.000 peserta dari seluruh Indonesia. Jumlah alumninya sejak 2009 sampai 2026 sudah mencapai sekitar 80.000 orang.
"Pengusaha muda ini tidak hanya membutuhkan pembiayaan, tetapi juga jaringan. Karena itu, dari alumni Wirausaha Muda Mandiri akan dibentuk Wirausaha Muda Mandiri Club sebagai tempat untuk saling terkoneksi. Ketika pengusaha bertemu dengan pengusaha, peluang untuk menciptakan kerja sama bisnis akan semakin terbuka," katanya.
Bank Mandiri juga memiliki Rumah BUMN sebagai wadah berkumpul dan tempat mengasah kapasitas pelaku usaha, untuk mendukung pengembangan UMKM.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Olahraga serta Pariwisata Surabaya Herry Purwadi menilai pengembangan UMKM butuh kolaborasi pemerintah, legislatif, kementerian, dan perbankan.
Menurut dia, pendampingan tidak boleh berhenti setelah akses pembiayaan diberikan. Pelaku usaha perlu dukungan berkelanjutan agar bisa mengelola bisnis secara mandiri dan menaikkan kapasitas usahanya.
Berbagai program pendampingan itu, harapannya, bisa memperkuat daya saing UMKM sekaligus berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
"Sudah saatnya UMKM naik kelas. Kita harus terus memberikan dukungan dan pendampingan supaya mereka pada akhirnya bisa mandiri. Dengan begitu, pertumbuhan usaha mereka juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," pungkasnya.










