TVRINews, Malang
Peringatan Hari Olahraga Nasional atau Haornas 2026 menjadi momentum bagi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang atau FIK UM untuk memperkuat budaya hidup aktif dan bugar di tengah masyarakat. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan pendidikan, penelitian, pembinaan prestasi, hingga pengembangan kebijakan yang berbasis pada kebugaran dan kesehatan masyarakat.
Dekan FIK UM, Sapto Adi, mengatakan olahraga tidak semata-mata berorientasi pada prestasi dan perolehan medali. Menurutnya, olahraga memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup sekaligus membentuk sumber daya manusia yang sehat dan produktif.
Karena itu, FIK UM terus mendorong pendidikan dan riset keolahragaan agar memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Komitmen tersebut diperkuat melalui peningkatan kualitas akademik. Empat program studi sarjana di FIK UM telah memperoleh akreditasi Unggul, sementara satu program studi lainnya telah mendapatkan akreditasi internasional.
Pengembangan kualitas akademik tersebut didukung kompetensi tenaga pengajar, penyempurnaan kurikulum, serta keterlibatan praktisi dari berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, fasilitas kesehatan, KONI, klub olahraga, hingga pusat kebugaran.
Dalam momentum Haornas, FIK UM juga menempatkan kebugaran sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Perguruan tinggi tidak hanya diarahkan mencetak tenaga profesional di bidang olahraga, tetapi juga menghasilkan inovasi yang mendukung peningkatan kesehatan dan kebugaran masyarakat.
Sejalan dengan visi Universitas Negeri Malang menuju Research University pada 2027, FIK UM mengembangkan riset terapan yang diharapkan mampu memberikan dampak nyata.
Sejumlah hasil penelitian bahkan telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual atau HKI dan dimanfaatkan oleh KONI, pelatih olahraga, maupun institusi pendidikan untuk mendukung pembelajaran pendidikan jasmani dan praktik olahraga.
Salah satu program yang dilakukan FIK UM adalah pengukuran kebugaran jasmani mahasiswa baru. Kegiatan ini bertujuan memetakan kondisi fisik mahasiswa sekaligus menghasilkan data yang dapat menjadi dasar pengembangan kebijakan kebugaran di lingkungan universitas.
Sapto menegaskan, kebugaran jasmani bukan hanya kebutuhan mahasiswa yang mengambil bidang keolahragaan. Kebugaran menjadi bagian penting dalam mendukung prestasi sekaligus menjaga kesehatan.
“Seorang juara sejati merupakan paket komplit yang memiliki knowledge yang bagus, attitude disiplin, dan kemampuan berinteraksi yang baik,” ujar Sapto.
Komitmen terhadap pembinaan prestasi juga diwujudkan melalui penyediaan fasilitas latihan, organisasi mahasiswa, serta dukungan bagi atlet berprestasi.
Salah satunya Joko Mulyono, mahasiswa difabel yang telah menorehkan prestasi di tingkat nasional dan ASEAN serta membidik peluang tampil di ajang Olimpiade.
Ada pula Lulut, atlet gulat peraih medali emas dan perak SEA Games, yang kini melanjutkan pendidikan di jenjang doktoral.
FIK UM juga terus memperluas jejaring akademik internasional melalui program mobilitas dosen. Sejumlah dosen mengembangkan kapasitas akademik di perguruan tinggi di Australia, Malaysia, Taiwan, dan China.
Langkah tersebut diharapkan memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman di bidang keolahragaan.
Dari sisi pemeringkatan, FIK UM juga mencatat capaian positif. Berdasarkan pemeringkatan Times Higher Education atau THE 2025, FIK UM berada di posisi ketiga di Indonesia untuk subjek keolahragaan.
Momentum Haornas 2026 pun menjadi pengingat bahwa olahraga memiliki makna yang lebih luas dari sekadar kompetisi. Aktivitas olahraga berkaitan erat dengan kesehatan, pembentukan karakter, produktivitas, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dengan menggabungkan pendidikan, riset terapan, pembinaan atlet, dan penguatan budaya kebugaran, FIK UM menargetkan diri menjadi salah satu pusat rujukan unggulan nasional di bidang olahraga dan kesehatan masyarakat pada 2030.
Semangat tersebut diharapkan mampu memperluas kontribusi FIK UM, tidak hanya dalam mencetak atlet dan tenaga profesional keolahragaan, tetapi juga dalam membangun masyarakat yang sehat, aktif, dan berdaya saing.










