TVRINews, Lumajang
Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, masih berstatus Siaga atau Level III. Di tengah status tersebut, aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih terpantau cukup tinggi.
Pada Selasa, 7 September 2026, dalam periode pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, Gunung Semeru tercatat mengalami 30 kali erupsi. Erupsi memiliki amplitudo 10 hingga 23 milimeter dengan lama gempa 75 hingga 151 detik. Sehari sebelumnya juga mengalami erupsi. Saat itu, kolom abu teramati mencapai sekitar 1.000 meter dari puncak.
Erupsi tersebut tidak disertai awan panas guguran. Aktivitas erupsi terekam pada seismograf Pos Pengamatan Gunung Api Semeru selama 120 detik dengan amplitudo maksimum 23 milimeter.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho, memastikan belum ada dampak yang ditimbulkan dari aktivitas erupsi Semeru kali ini.
Meski demikian, BPBD tetap melakukan kesiapsiagaan di sekitar Gunung Semeru dan meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan.
Masyarakat diminta mewaspadai potensi awan panas guguran di sepanjang aliran Sungai Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer.
"Masyarakat dihimbau menjauh dari bantaran sungai hingga jarak lima ratus meter. Selain itu tidak beraktivitas apapun di sekitar kawah aktif Jonggringn Saloko hingga radius aman lima kilometer," ungkap Isnugroho, dikutip Selasa, 8 September 2026.
Potensi bahaya lain yang perlu diwaspadai yakni guguran lava dan lahar di sepanjang aliran sungai maupun lembah yang berhulu di puncak Semeru.
Kewaspadaan terutama diperlukan di Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk sungai-sungai kecil yang menjadi anak Sungai Besuk Kobokan.










