TVRINews, Surabaya
Pembukaan pameran kokurikuler Festival Dolanan Tradisional digelar meriah di SDN Keputih 245, Kecamatan Sukolilo, Surabaya. Kegiatan ini menjadi sarana edukasi sekaligus upaya melestarikan budaya bangsa melalui berbagai permainan tradisional yang mulai jarang dimainkan anak-anak di era digital.
Suasana penuh keceriaan tampak mewarnai jalannya festival yang digagas oleh Kepala Sekolah SDN Keputih 245, Ainy Mauliddiyah. Acara dibuka secara resmi dengan pemotongan pita oleh Lurah Keputih, Vitria Farish Mayasari.
Festival ini bertujuan mengenalkan sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal kepada para murid sejak usia dini.
Para guru turut mendampingi siswa untuk memainkan berbagai dolanan tradisional yang sarat nilai edukasi dan kebersamaan.
Beragam permainan tradisional diperkenalkan dalam kegiatan tersebut, di antaranya gobak sodor, engklek, egrang, congklak, bentengan, tarik tambang, lompat tali hingga bakiak. Selain menjadi hiburan, permainan tradisional juga dinilai mampu melatih anak untuk aktif bergerak, bersosialisasi, serta membangun kerja sama dengan teman sebaya.

Tidak hanya itu, dolanan tradisional juga mengandung nilai-nilai penting seperti sportivitas, kejujuran, gotong royong, dan semangat kebersamaan yang menjadi bagian dari kearifan lokal bangsa Indonesia.
Lurah Keputih, Vitria Farish Mayasari mengapresiasi kegiatan yang digelar pihak sekolah tersebut. Menurutnya, festival dolanan tradisional menjadi langkah positif untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget di tengah pesatnya perkembangan teknologi modern.
"Anak-anak sekarang lebih banyak bermain gadget. Dengan adanya festival ini, kami berharap mereka bisa kembali mengenal permainan tradisional yang mengandung nilai kebersamaan dan budaya lokal," ujarnya dalam keterangan yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 23 Mei 2026.
Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Keputih 245, Ainy Mauliddiyah mengatakan bahwa festival dolanan tradisional menjadi sarana belajar yang menyenangkan sekaligus membangun karakter para murid agar tidak malu mencintai budaya sendiri.
"Kami ingin anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mencintai budaya sendiri. Karena dolanan tradisional mengajarkan nilai karakter dan kebersamaan," jelas Ainy Mauliddiyah.
Melalui kegiatan ini, pihak sekolah berharap para murid dapat mengurangi ketergantungan terhadap gadget, mempererat hubungan antar siswa melalui interaksi yang sehat dan aktif, serta menjadi langkah nyata dalam menjaga dan melestarikan budaya bangsa sejak usia dini.










