TVRINews, Lamongan
SDN Keting di Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, berhasil mengubah lahan terbengkalai di lingkungan sekolah menjadi kawasan ketahanan pangan produktif. Inovasi tersebut diwujudkan melalui budidaya udang vaname, ikan lele, serta pertanian tumpangsari untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program ini dikembangkan bersama Pemerintah Desa Keting sebagai upaya menyediakan bahan baku pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.
Kepala SDN Keting, Siswo Handoko, mengatakan pemanfaatan potensi lokal dan dukungan terhadap program strategis nasional menjadi semangat sekolah untuk terus berinovasi.
“Pihak sekolah secara kreatif berhasil mengubah wajah lahan terbengkalai di sekitar sekolah ini. Awalnya sangat rimbun penuh semak belukar dan kini sudah menjadi kawasan produktif sebagai sentra ketahanan pangan,” ungkap Siswo kepada TVRINews, Jumat, 30 Mei 2026.
Menurutnya, pengembangan lahan produktif tersebut tidak hanya menjadi sarana pembelajaran berbasis alam bagi siswa, tetapi juga diarahkan untuk mendukung kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis.
“Lahan produktif ini berada di atas lahan seluas 100 meter persegi dengan fasilitas budidaya mulai dari kolam lele, udang vaname berukuran tiga kali enam meter, serta lahan pertanian tumpangsari. Semoga program bapak Presiden untuk mewujudkan Generasi Emas 2045 benar-benar terwujud melalui MBG,” tambahnya.
Kepala Desa Keting, Jauhri, menjelaskan lahan tumpangsari akan memadukan budidaya tanaman bawang dengan ikan nila dan ikan tombro. Program tersebut juga mendapat dukungan dari korwil pendidikan, komite sekolah, dan berbagai pemangku kepentingan.
“Dukungan datang dari semua pihak sehingga program pemeliharaan lahan produktif guna mendukung program bapak Presiden ini bisa cepat berjalan, hingga lahan ini bisa produktif dan sangat bermanfaat,” ujar Jauhri.
Kolaborasi antara sekolah dan pemerintah desa ini diharapkan mampu menjadi percontohan bagi sekolah lain di Kabupaten Lamongan dalam mengembangkan ketahanan pangan berbasis pendidikan. Selain mendukung kemandirian pangan, program tersebut juga diharapkan berkontribusi pada pemenuhan gizi generasi muda secara berkelanjutan.



