TVRINews, Sidoarjo
Perpustakaan Asheeqa Ilmi Desa Bulang, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo, menjadi salah satu lokasi pelaksanaan KKN Tematik Literasi 2026 hasil kolaborasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Selama satu bulan pada Juli 2026, sebanyak 10 mahasiswa ITS melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dengan menghadirkan berbagai program penguatan literasi yang menyasar anak-anak hingga masyarakat umum.
Sebagai salah satu titik pelaksanaan KKN Tematik Literasi ITS di Kabupaten Sidoarjo, Perpustakaan Asheeqa Ilmi menjadi ruang kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, pengelola perpustakaan, komunitas, serta masyarakat untuk membangun budaya baca dan tulis yang berkelanjutan.
Program unggulan yang diusung mengedepankan penumbuhan budaya baca dan tulis melalui pendekatan rekreatif dan apresiatif. Berbagai kegiatan dikemas secara menyenangkan melalui kelas literasi, permainan edukatif, pendampingan belajar, aktivitas kreatif, serta penataan kembali perpustakaan agar menjadi ruang belajar yang nyaman dan ramah anak.
Selama pelaksanaan KKN, mahasiswa berhasil mendata sekaligus melakukan katalogisasi sekitar 1.000 buku bacaan anak sehingga koleksi perpustakaan menjadi lebih tertata dan mudah diakses. Selain itu, mereka juga menyelenggarakan kelas-kelas literasi bagi anak usia PAUD, TK, hingga seluruh jenjang Sekolah Dasar (SD). Program tersebut menjadi upaya nyata memperkenalkan budaya membaca sejak usia dini melalui kegiatan yang menyenangkan.

Praktisi Pendidikan, Pegiat Literasi Jawa Timur, sekaligus Founder Jelajah Selindu, Moh Makrus Sahlan, menilai kehadiran mahasiswa ITS menjadi energi baru bagi gerakan literasi di Desa Bulang.
"Literasi tidak hanya dibangun melalui buku, tetapi juga melalui kepedulian, kolaborasi, dan keteladanan. Kehadiran mahasiswa ITS membuktikan bahwa kampus dapat hadir di tengah masyarakat untuk menghidupkan kembali ruang-ruang belajar di desa. Semoga kolaborasi ini menjadi inspirasi lahirnya lebih banyak gerakan literasi yang berkelanjutan," ujarnya.
Salah seorang peserta KKN, Mohammad Diego Pantano, mengatakan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman yang bermakna sekaligus memperkuat keyakinannya bahwa literasi mampu membawa perubahan.
"Harapan saya, KKN Literasi ini menjadi penyemangat bagi adik-adik di desa dan memotivasi masyarakat bahwa literasi bukan hanya tentang membaca, tetapi juga tentang berkarya," katanya.
Hal senada disampaikan Riqqah Nasywa Agustiawan. Menurutnya, KKN Tematik Literasi mengajarkan pentingnya kerja sama dan kepedulian terhadap masyarakat.
"Saya belajar bekerja sama, beradaptasi dengan masyarakat, dan menyadari bahwa hal sederhana dapat memberikan dampak yang berarti. Semoga program ini terus berlanjut, memberikan manfaat bagi masyarakat, dan semakin banyak anak yang gemar membaca serta semangat belajar," ungkapnya.

Sementara itu, Naila Noor Abida mengaku terkesan melihat perubahan yang terjadi di Perpustakaan Asheeqa Ilmi.
"Melalui Perpustakaan Asheeqa Ilmi, saya belajar bahwa ruang yang sederhana dapat menjadi tempat tumbuhnya pengetahuan, kreativitas, dan harapan bagi anak-anak. Melihat perpustakaan yang sebelumnya terbengkalai kembali bersih, nyaman, dan dapat dimanfaatkan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya. Saya berharap perpustakaan ini terus dirawat, dikelola, dan dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga tetap menjadi ruang belajar yang hidup," tuturnya.
Pengelola Perpustakaan Asheeqa Ilmi, Nia Andriani, mengaku terharu atas kepedulian mahasiswa ITS terhadap perpustakaan desa.
"Kami senang masih ada yang peduli dengan ruang baca kami. Perjuangan di jalan sunyi memang membutuhkan orang-orang yang memiliki empati. Kehadiran mahasiswa ITS menjadi semangat baru bagi kami untuk terus menghidupkan Perpustakaan Asheeqa Ilmi sebagai ruang belajar, ruang bertemu, dan ruang bertumbuh bagi masyarakat Desa Bulang," ujarnya.
Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada masa KKN semata, tetapi menjadi awal lahirnya gerakan literasi yang berkelanjutan di Desa Bulang. Dengan sinergi antara Perpusnas RI, ITS, Pemerintah Desa Bulang, Perpustakaan Asheeqa Ilmi, serta berbagai komunitas literasi, desa diharapkan mampu menjadi contoh bahwa penguatan budaya baca dapat dimulai dari ruang-ruang sederhana yang dikelola dengan semangat gotong royong, kepedulian, dan pengabdian.









