TVRINews, Surabaya
Penyakit skabies masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang rentan menyebar di lingkungan pondok pesantren. Kepadatan hunian asrama dan tingginya interaksi antarsantri, ditambah penggunaan perlengkapan pribadi secara bergantian, dapat meningkatkan risiko penularan penyakit kulit tersebut.
Sebagai upaya pencegahan, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat menggelar Pelatihan Deskab atau Deteksi Dini Skabies bagi Santri Husada di Pondok Pesantren Hidayatullah Al Muhajirin, Bangkalan, Madura.
Pelatihan yang diikuti 40 Santri Husada tersebut dipimpin oleh dokter spesialis kulit Maria Ulfa. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai skabies, mulai dari penyebab, cara penularan, tanda dan gejala, hingga faktor risiko yang dapat mempercepat penyebarannya di lingkungan asrama.
Maria Ulfa mengatakan skabies sering dianggap sebagai gangguan kulit ringan karena hanya menimbulkan rasa gatal. Padahal, kasus yang tidak segera terdeteksi dapat menjadi sumber penularan bagi banyak santri lainnya.
“Skabies bukan penyakit berat, tetapi dampaknya signifikan terhadap kenyamanan dan konsentrasi belajar. Deteksi dini adalah kunci memutus rantai penularan sebelum meluas ke seluruh asrama,” ujar Maria Ulfa.
Selain mendapatkan materi, para Santri Husada juga mengikuti praktik deteksi dini skabies. Mereka dilatih mengenali tanda awal penyakit melalui pengamatan terhadap kelainan kulit, membedakan ruam yang mengarah pada skabies dengan penyakit kulit lainnya, serta mengenali area tubuh yang rentan terkena.
Peserta juga dibekali pemahaman mengenai kondisi yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga kesehatan.
Maria Ulfa mengatakan salah satu gejala yang perlu diwaspadai adalah rasa gatal yang semakin parah pada malam hari. Gejala tersebut kerap diabaikan karena dianggap sebagai gatal biasa.
“Banyak santri mengabaikan gatal yang memburuk di malam hari karena dianggap biasa. Itu gejala paling klasik skabies. Kami bekali mereka agar tidak lagi meremehkan tanda sekecil apa pun,” lanjutnya.
Tim pengabdian UNUSA juga memberikan pemeriksaan kesehatan kulit secara gratis kepada seluruh peserta. Pemeriksaan tersebut sekaligus menjadi sarana praktik bagi Santri Husada dengan pendampingan tenaga profesional.
Selain deteksi dini, pelatihan juga menekankan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat untuk mencegah penularan. Santri diimbau menjaga kebersihan diri, mengganti pakaian dan sprei secara rutin, tidak menggunakan handuk atau mukena secara bergantian, serta menjaga sirkulasi udara di kamar.
Perwakilan Pondok Pesantren Hidayatullah Al Muhajirin, Quddus Salam, mengapresiasi pelatihan yang diberikan UNUSA. Menurutnya, skabies masih menjadi tantangan yang kerap muncul di lingkungan pesantren.
“Kami sering kewalahan. Baru sembuh beberapa santri, muncul lagi kasus baru. Pendekatan UNUSA ini membuka mata kami bahwa kuncinya bukan hanya mengobati, tetapi mendeteksi lebih awal,”ucapnya.
Ia berharap Santri Husada dapat menjadi penggerak dalam meningkatkan kesadaran kesehatan di lingkungan pesantren.
“Mereka bukan hanya kader kesehatan, melainkan agen perubahan. Pengetahuan yang diperoleh hari ini harus menular dalam bentuk positif, bukan justru penyakitnya yang menular,” tegasnya.
Melalui pelatihan tersebut, UNUSA berharap Santri Husada dapat berperan sebagai detektor awal kasus skabies di lingkungan pesantren. Upaya ini diharapkan membangun sistem pencegahan yang melibatkan kader kesehatan, klinik pesantren, serta seluruh warga pesantren dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat.










