TVRINews, Surabaya
Di tengah era modern, kesenian wayang kulit semakin tergerus oleh perkembangan zaman. Namun, kondisi tersebut justru mendorong Danar Dwi (36), seorang seniman asal Surabaya, untuk terus melestarikan wayang kulit melalui karya kontemporer.
Berawal dari hobi mengoleksi wayang kulit, Danar kini merintis kerajinan wayang kulit kontemporer dengan sentuhan imajinasi manga di rumah sederhananya di Kampung Plampitan, Surabaya.

Setiap hari, Danar berkutat dengan kerajinan wayang kulit. Ia menatah kulit kerbau untuk dibuat menjadi berbagai karakter wayang kulit.
Dari hasil kerajinannya tersebut, Danar telah mengoleksi sebanyak 85 wayang kulit. Sebanyak 20 di antaranya dibuat dengan teknik ngeblak wayang, yakni menduplikasi wayang kulit yang sudah berusia tua untuk dibuat kembali menggunakan bahan kulit baru dengan tangannya sendiri.
Danar mengaku, hobinya tersebut salah satunya dipengaruhi latar belakang pendidikan seni rupa yang ditempuhnya di salah satu universitas negeri di Kota Surabaya.
Sebagai generasi muda yang memiliki kewajiban melestarikan budaya Jawa, Danar berkomitmen untuk terus merawat kesenian tersebut dengan sungguh-sungguh. Ia juga berupaya memberikan karya terbaik berdasarkan kepercayaan masyarakat yang menggunakan jasanya.
Danar melakukan teknik ngeblak terhadap wayang kulit yang hampir rusak dan telah berusia 50 hingga 100 tahun. Wayang tersebut dibuat kembali semirip mungkin dengan aslinya agar tidak punah termakan zaman.
Danar menjelaskan, rutinitas ngeblak berawal dari hobi dan kecintaannya terhadap kesenian wayang kulit, serta keinginannya untuk melestarikan wayang Jawa Timuran.
"Kondisi fisik wayang kulit jek dong khas jawa timuran yang sudah berusia 50 hingga 100 tahun, sudah hampir rusak karena termakan usia. Wayang kulit berusia tua ini, saya dapatkan dari kolektor wayang kulit maupun dalang wayang kulit dari berbagai daerah di Jawa timur, seperti Gresik dan Malang," jelas Danar, Kamis, 10 September 2026.
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai ilustrator freelance ini mengaku mulai mengoleksi wayang kulit sejak 2019. Koleksinya khususnya berupa wayang Jawa Timuran, di antaranya Semar, Gajendramuka, Bagong, Kumbokarno, Rahwana, Subali, dan Gatot Kaca.
“Ada wayang Batara Guru yang dibuat tahun 1932. maka nya karena sudah tua dan banyak yang rapu saya menduplikat wayang tersebut dengan membuatnya ulang semirip mungkin dengan aslinya,” ujarnya.
Selain melestarikan wayang tradisional, Danar juga mengembangkan wayang kulit kontemporer dengan imajinasi dan karakter yang menjadi ciri khas karyanya.
Untuk menyelesaikan satu buah wayang, ia membutuhkan waktu hingga dua minggu. Dari upaya merintis kerajinan wayang kulit kontemporer tersebut, Danar juga mulai mendapatkan pesanan dari masyarakat.
“Iya, Alhamdulilah kadang ada pesanan untuk membuat wayang kulit. satu wayangnya mulai dari 400 ribu hingga 1 juta 200 ribu rupiah per wayang. Sebenarnya bukan hanya hasil cuan tapi lebih pada bagaimana apa yang saya lakukan ini untuk melestarikannya agar tidak punah dan bisa dicontoh oleh generasi lainnya,“ pungkasnya.










