TVRINews, Surabaya
Dunia sepak bola Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Legenda Tim Nasional Indonesia sekaligus pelatih senior, M. Basri, meninggal dunia pada Kamis, 23 Juli 2026 dini hari di Rumah Sakit Darmo, Surabaya, dalam usia 83 tahun.
Kepergian M. Basri meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta insan sepak bola Tanah Air. Sosok yang dikenal tegas, disiplin, dan penuh dedikasi itu telah mengabdikan puluhan tahun hidupnya sebagai pemain maupun pelatih.
Semasa menjadi pemain, M. Basri pernah memperkuat PSM Makassar dan menjadi bagian dari Timnas Indonesia pada periode 1962 hingga 1973. Setelah gantung sepatu, ia melanjutkan kiprahnya sebagai pelatih dengan menangani Timnas Indonesia serta sejumlah klub besar, seperti Persebaya Surabaya, NIAC Mitra, Arema Malang, Persela Lamongan, PSS Sleman, Persita Tangerang, hingga Persekam.
Di level tim nasional, M. Basri dipercaya menukangi Timnas Indonesia pada 1983 dan 1989. Salah satu pencapaian terbaiknya adalah membawa Indonesia meraih medali perunggu SEA Games 1989 bersama Iswadi Idris dan Abdul Kadir dalam trio pelatih yang dikenal dengan sebutan Basiska.
Putra almarhum, Ahmad Ridwan Basri, mengenang ayahnya sebagai sosok yang menjunjung tinggi disiplin dan keadilan, baik di dalam maupun di luar lapangan.
“Bapak orang yang disiplin, tegas, dan tidak pandang bulu kepada siapa pun, termasuk kepada anak-anaknya sendiri. Namun, beliau tidak pernah membentak kami. Beliau sosok yang hangat dan meninggalkan banyak teladan bagi keluarga maupun murid-muridnya,” ujar Ridwan usai pemakaman pada Jumat, 24 Juli 2026
Ucapan belasungkawa juga datang dari mantan pemain Persebaya, Yusuf Ekodono. Menurutnya, M. Basri merupakan pelatih yang sangat dihormati karena mampu membentuk karakter para pemain, bukan hanya meningkatkan kemampuan mereka di lapangan.
“Almarhum sangat disegani. Kami menyaksikan bagaimana beliau mendidik anak-anak didiknya dengan luar biasa. Pengabdiannya untuk sepak bola Indonesia sangat besar dan telah melahirkan banyak pemain hebat,” kata Yusuf.
Kenangan serupa disampaikan mantan anak asuhnya di Arema Malang, Putu Gede. Ia menilai M. Basri berperan besar dalam membangkitkan kembali Arema saat klub tersebut berada dalam masa sulit.
“Pak Basri bukan hanya mengajarkan teknik bermain, tetapi juga sportivitas, disiplin, dan semangat pantang menyerah. Nilai-nilai yang beliau tanamkan akan terus kami pegang dan lanjutkan,” ungkap Putu Gede.
Meski telah berusia lanjut, M. Basri tetap aktif membina sepak bola. Jabatan terakhir yang diembannya adalah sebagai Head Coach PS Bantul Yogyakarta selama dua musim, yakni pada 2025–2026.
Kepergian M. Basri menjadi kehilangan besar bagi sepak bola Indonesia. Dedikasi, integritas, dan pengabdiannya selama lebih dari enam dekade akan selalu dikenang sebagai bagian penting dalam perjalanan dan perkembangan sepak bola nasional.









