TVRINews, Probolinggo
Semangat untuk menggapai swasembada pangan terus dilakukan para petani di Kota Probolinggo, Jawa Timur. Terlebih melihat harga gabah yang masih bisa bertahan di harga yang sepadan.
Salah satunya dirasakan Samsul Arifin. Petani 35 tahun, asal kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Jawa Timur ini baru saja panen padi. Lahannya tidak terlalu luas. Hanya 4.000 meter persegi. Warga setempat biasa menyebutnya satu iring.
Dari jumlah tersebut, Samsul Arifin berhasil memetik keuntungan yang lumayan besar. Tidak tanggung-tanggung, Rp 16 Juta dalam satu kali panen. Sebuah angka yang cukup besar dalam musim panen kali ini. Hasil panen didapat setelah masa tanam selama empat bulan. Dia tidak perlu membayar buruh untuk perawatan tanaman padi, karena semuanya dilakukannya seorang diri.
“Alhamdulillah, harga gabah basah saat ini di tingkat petani Rp 7000. Harga kering Rp 8.000 per kilogram. Saat ini baru musim kemarau. Biasanya tambah naik harganya nanti,” kata Samsul Arifin saat berada di sebuah gubuk tengah sawah, Jumat, 15 Mei 2026.
Setali tiga uang. Hal yang sama juga diungkapkan Ahmad Antoni, seorang petani, 40 tahun, asal Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, Jawa Timur. Menurutnya, harga gabah saat ini sudah cukup tinggi. Jika sebelumnya, harga gabah saat berada di sawah atau gabah basah hanya Rp 5.000, maka saat ini sudah jauh melampaui di atasnya.
“Luas sawah saya cuma setengah iring (2.000 meter persegi, Redaksi). Tapi sudah bisa mencukupi kebutuhan keluarga saya sampai beberapa bulan ke depan. Alhamdulillah,” pungkasnya penuh rasa syukur.
Perlu diketahui, apa yang dirasakan Samsul Arifin dan Ahmad Antoni adalah fenomena yang dialami petani saat ini. Mereka bisa meraup untung besar setelah hasil panennya laku terjual dengan harga tinggi. Bukan dijual ke Bulog, melainkan ke pedagang.
Menanggapi fenomena yang dialami petani ini, Kepala Bulog Cabang Probolinggo Kuswadi menjelaskan peran Bulog adalah menjaga stabilitas harga di tingkat petani dan konsumen. Tujuan akhirnya adalah meingkatkan kesejahteraan masyarakat pada umumnya.
Menurutnya, patokan harga gabah sebesar Rp 6.500 itu adalah agar harga gabah tidak jatuh di bawahnya. Dengan patokan harga tersebut, petani juga bisa mendapatkan harga yang jauh lebih tinggi di atasnya, dengan menjualnya ke pedagang ataupun tengkulak.
“Itu bagian dari strategi kami untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Selain menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, tugas kami adalah mendongkrak ekonomi para petani, khususnya petani padi,” jelas Kuswadi saat berada di kantornya jalan Suroyo, Kota Probolinggo, Jawa timur.
Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik atau Bulog telah bertransformasi untuk menjadi sebuah institusi negara dengan performa yang jauh lebih baik. Terlebih menyikapi perkembangan zaman yang modern dan berbasis teknologi digital.
Kuswadi menjelaskan ada beragam inovasi yang dilakukan Bulog untuk menjawab tantangan zaman tersebut. Diantaranya dengan membentuk Tim Jemput Gabah yang bertugas untuk menaikkan tingkat penyerapan gabah dari petani. Tim ini berjumlah sepuluh orang, ditambah enam personil dari petugas pemeriksa kualitas.
Tim Jemput Gabah ini mendatangi petani yang ada di daerah-daerah. Kemudian melakukan pendekatan serta edukasi kepada petani tentang peran bulog sebagai menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan di Indonesia.
“Tim Jemput Pangan juga memberi kan edukasi kepada para petani agar mau melakukan transaksi penjualan gabah dengan kami. Tentunya sesuai dengan aturan yang berlaku. Termasuk melakukan transaksi pembayaran secara cashless atau non tunai” jelas Kuswadi.
Bulog juga bekerja sama dengan mitra penggilingan padi untuk menjaga stabilitas harga dan meningkatkan penyerapan gabah petani. Tercatat , sudah ada 15 mitra penggilingan padi yang telah menjadi kerja sama dengan Bulog di wilayah Probolinggo dan Lumajang. Dengan mitra penggilingan padi tersebut dipastikan pasokan beras untuk masyarakat bisa terpenuhi.
Untuk menjaga dan mempertahankan status swa sembada pangan, Bulog juga melakukan terobosan yang belum pernah dilakukan. Diantaranya dengan menyediakan gudang sewa yang bisa dipakai untuk menyimpan persediaan beras.
Sampai saat ini sudah ada gudang sewa di wilayah Probolinggo dan Lumajang. Semuanya sudah terisi penuh, dan akan terus bertambah untuk mengantisipasi melonjaknya jumlah pasokan beras dari petani. “Jadi pecuma kalau pasokan beras bertambah, tapi tidak disiapkan tempat untuk menyimpannya. Itulah sebabnya Bulog menyediakan gudang yang sudah kami sewa dari mitra,” terang Kuswadi.










