TVRINews, Surabaya
Asosiasi Relawan dan Pengelola Jurnal Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (ARJUNU) bersama Relawan Jurnal Indonesia (RJI) menggelar ARJUNU–RJI International Forum on Journal Excellence 2026 di Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS), Semarang, Jawa Tengah.
Mengusung tema “Connecting Editors, Sharing Experience, and Building Global Collaboration”, forum ini menjadi ruang pertemuan para pengelola jurnal, akademisi, serta jejaring editor nasional dan internasional untuk berbagi pengalaman, memperkuat tata kelola jurnal, sekaligus membangun kolaborasi menuju peningkatan rekognisi jurnal Indonesia di tingkat global.
Kegiatan dilaksanakan secara hybrid dan menghadirkan sejumlah tokoh serta pengelola jurnal, di antaranya Prof. Ainun Na’im, Ketua LPTNU PBNU; Prof. Helmy Purwanto, Rektor Universitas Wahid Hasyim; Ali Formen, Pembina ARJUNU; Arbain, Ketua Umum Relawan Jurnal Indonesia (RJI); serta Dr. Fifi Khoirul Fitriyah, Ketua ARJUNU.
Dalam sambutan sekaligus pembukaan kegiatan, Rektor Universitas Wahid Hasyim, Prof. Helmy Purwanto, menyampaikan dukungan terhadap berbagai upaya peningkatan kualitas dan reputasi jurnal ilmiah di Indonesia.
Menurutnya, jurnal merupakan bagian penting dari ekosistem akademik perguruan tinggi. Karena itu, peningkatan kualitas pengelolaan jurnal perlu terus didorong agar semakin banyak jurnal Indonesia memperoleh rekognisi internasional, termasuk terindeks Scopus.
UNWAHAS sendiri terus mendorong jurnal-jurnal yang dikelolanya untuk meningkatkan kualitas. Saat ini, dua jurnal di lingkungan Universitas Wahid Hasyim telah diajukan ke Scopus.
“Kami sangat mendukung perkembangan jurnal-jurnal di Indonesia. Harapannya semakin banyak jurnal Indonesia yang mampu masuk dan terindeks Scopus. UNWAHAS sendiri saat ini telah mengajukan dua jurnal ke Scopus, dan tentu kita semua berharap keduanya dapat lolos,” ungkapnya, dikutip Selasa, 25 Agustus 2026.
Ia berharap forum kolaboratif seperti ARJUNU–RJI International Forum dapat mempercepat proses pembelajaran antarpengelola jurnal sekaligus membuka kesempatan kolaborasi yang semakin luas.
Pembina ARJUNU, Ali Formen, menyampaikan apresiasi kepada RJI atas terbangunnya kolaborasi bersama ARJUNU dalam penyelenggaraan forum internasional tersebut.
Menurutnya, kerja sama antarkomunitas dan organisasi pengelola jurnal merupakan modal penting untuk membangun ekosistem publikasi ilmiah yang semakin kuat.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada RJI yang telah bekerja sama dengan ARJUNU. Semoga kerja sama ini dapat terus berjalan dengan baik, semakin berkembang, dan pada akhirnya membawa manfaat yang lebih luas bagi perguruan tinggi, masyarakat, dan umat,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi ARJUNU dan RJI tidak berhenti pada penyelenggaraan kegiatan, tetapi berkembang menjadi berbagai program bersama dalam peningkatan kapasitas editor dan kualitas jurnal.
Ketua Umum Relawan Jurnal Indonesia (RJI), Dr. Arbain, menyambut positif kolaborasi RJI dengan ARJUNU dan jaringan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU).
Menurut Arbain, RJI telah memiliki pengalaman panjang dalam pendampingan dan penguatan tata kelola jurnal. RJI juga telah membangun jejaring dan kolaborasi dengan berbagai mitra, termasuk komunitas akademik dan pengelola jurnal dari berbagai negara.
Pengalaman tersebut, menurutnya, dapat menjadi modal yang dibagikan dan dikembangkan bersama ARJUNU untuk memperkuat kualitas pengelolaan jurnal di lingkungan PTNU.
“Kami sangat senang dapat berkolaborasi dengan ARJUNU dan PTNU. Berbagai pengalaman RJI dalam pengelolaan jurnal, pendampingan editor, hingga membangun kolaborasi dengan berbagai negara tentu dapat kita bagikan dan kembangkan bersama ARJUNU,” ujar Arbain.
Ia melihat kolaborasi tersebut memiliki potensi besar. ARJUNU mempunyai jejaring PTNU yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, sedangkan RJI memiliki pengalaman panjang dalam membangun komunitas dan tata kelola jurnal. Kekuatan keduanya diharapkan dapat saling melengkapi.
Ketua ARJUNU, Dr. Fifi Khoirul Fitriyah (Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya), menegaskan bahwa kolaborasi dengan RJI juga menjadi bagian dari strategi ARJUNU untuk memperluas jejaring sekaligus mempercepat pemerataan perkembangan jurnal PTNU di berbagai wilayah Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa dipilihnya Jawa Tengah sebagai salah satu wilayah yang mendapatkan perhatian lebih dalam rangkaian kegiatan ARJUNU bukan tanpa alasan. Berdasarkan pemetaan dan analisis perkembangan jurnal yang dilakukan ARJUNU, Jawa Tengah memiliki potensi besar, namun ekosistem dan perkembangan jurnalnya masih perlu terus diperkuat.
Karena itulah, ARJUNU secara sengaja mulai memperbanyak kegiatan, pendampingan, serta ruang pertemuan editor di Jawa Tengah.
“Kami memang sengaja mulai memperbanyak kegiatan ARJUNU di Jawa Tengah. Dari pemetaan kami, perkembangan jurnal di wilayah ini masih perlu terus didorong, sementara potensinya sangat besar. Kami berharap suatu saat gerakan dan ekosistem jurnal di Jawa Tengah dapat berkembang secara masif seperti yang saat ini mulai terbentuk di Jawa Timur,” ujar Fifi.
Menurut Fifi, pengembangan jurnal tidak seharusnya berhenti pada upaya memperoleh peringkat akreditasi atau indeksasi. Hal yang jauh lebih penting adalah membangun ekosistem pengelolaan jurnal yang sehat dan berkelanjutan.
Ekosistem tersebut mencakup peningkatan kapasitas editor, kualitas artikel, jejaring reviewer, keberagaman penulis dan afiliasi, konsistensi penerbitan, tata kelola dan keamanan OJS, hingga kemampuan jurnal membangun konektivitas dengan komunitas akademik internasional.
“Target akhirnya tentu kita ingin semakin banyak jurnal PTNU yang mendapatkan rekognisi nasional maupun internasional. Tetapi sebelum sampai ke sana, editornya harus kuat, jejaringnya harus luas, tata kelolanya harus baik, dan kolaborasinya harus hidup. Karena jurnal yang baik tidak mungkin dibangun sendirian,” tegasnya.
Ia berharap Jawa Tengah ke depan dapat tumbuh menjadi salah satu simpul kuat dalam jejaring jurnal PTNU sekaligus memberikan kontribusi terhadap perkembangan jurnal Indonesia secara lebih luas.
International Editors Panel, Dari Berbagi Pengalaman Menuju Kolaborasi Global
Salah satu agenda utama kegiatan adalah International Editors Panel bertajuk “Connecting Editors Across Border: Sharing Experience for Journal Excellence.”
Panel menghadirkan Dr. Sanju Kumar Singh dari University of Nepal; Rani Darmayanti, M.Pd. dari Universitas NU Pasuruan; Dr. Arsalan Khan, Postdoctoral Researcher UNUSA; serta Dr. Ahmad Sirajuddin dari EIC Kharisma.
Melalui sesi berbagi pengalaman, diskusi panel, editorial best practices, serta networking antareditor, forum ini diarahkan tidak hanya menjadi ruang seminar, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi terbentuknya jejaring kerja yang lebih konkret antara pengelola jurnal Indonesia dan mitra internasional.
ARJUNU dan RJI memandang bahwa tantangan jurnal Indonesia ke depan tidak lagi sebatas memenuhi standar administratif akreditasi. Jurnal Indonesia perlu bergerak menuju kualitas substansi, profesionalisme tata kelola, keberagaman penulis dan editor, peningkatan visibilitas, serta penguatan jejaring akademik internasional.
Melalui ARJUNU–RJI International Forum on Journal Excellence 2026, sinergi antara ARJUNU, RJI, LPTNU, perguruan tinggi, dan jejaring editor internasional diharapkan menjadi langkah bersama untuk membangun ekosistem jurnal Indonesia yang semakin kuat serta membuka jalan bagi semakin banyak jurnal nasional memperoleh rekognisi dan indeksasi internasional.










