TVRINews, Malang
Kebaktian Tahunan Nasional (KTN) ke-63 Yayasan Pelayanan Pekabaran Injil Indonesia (YPPII) di Kota Batu, Jawa Timur, menjadi momentum refleksi peran iman dalam pembangunan bangsa. Kegiatan yang digelar Rabu, 1 Juli 2026 pagi ini juga dirangkaikan dengan seminar sehari yang menghadirkan sejumlah tokoh nasional.
Di tengah dinamika kehidupan berbangsa yang semakin kompleks, pembangunan Indonesia dinilai tidak cukup hanya mengandalkan kemajuan ekonomi, teknologi, dan infrastruktur. Kegiatan ini menekankan pentingnya pembangunan manusia yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial.
Selama pelaksanaan KTN, ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti rangkaian kegiatan ibadah dan dialog kebangsaan. Forum ini menjadi ruang pertemuan antara nilai-nilai iman dan tanggung jawab sebagai warga negara.
KTN ke-63 YPPII mengusung tema “God's Arrow Generation” yang terinspirasi dari Mazmur 127:1-5. Tema ini dimaknai sebagai gambaran generasi yang dipersiapkan menjadi “anak panah” di tangan Tuhan, dibentuk dengan karakter kuat, diarahkan pada tujuan yang benar, lalu diutus membawa dampak bagi dunia.
Ketua Umum YPPII, Pdt. Roland M. Oktavianus, menyampaikan forum ini mengajak jemaat untuk memahami kehidupan beriman tidak berhenti di dalam gereja. Ia menekankan pentingnya penerapan nilai iman dalam kehidupan sehari-hari.
“Mencintai Indonesia diwujudkan dengan menghadirkan nilai-nilai kristiani dalam kehidupan sehari-hari, seperti kasih, kejujuran serta semangat melayani tanpa membedakan suku, agama, maupun golongan. Melalui semangat itulah, gereja diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya teguh dalam iman, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsa,” ucap Pdt. DR. Roland M. Okativianus.
Wakil Menteri Agama RI KH. Romo HR. Muhammad Syafi’I, yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan pentingnya keseimbangan antara kehidupan spiritual dan nasionalisme. Ia menilai generasi muda perlu memiliki kecintaan terhadap tanah air sekaligus tanggung jawab sosial.
Pesan tersebut diperkuat melalui Seminar Wawasan Kebangsaan bertema “Membangun Generasi Sehat untuk Masa Depan Bangsa.”
“Bangsa kita ini sudah teruji dengan berbagai pengalaman dalam jangka waktu lama. Semua umat bisa hidup kompak, rukun, dan damai. Ini menjadi kekuatan bersama menghadapi hambatan, ancaman, tantangan, serta gangguan dari pihak-pihak yang merasa dirugikan," ujar Romo Syafi'i.
Sejumlah tokoh nasional turut hadir dalam seminar tersebut, di antaranya Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim S. Djojohadikusumo, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin P. Octavianus, serta Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam Fary D. Francis.
Kehadiran para pejabat negara ini memperlihatkan pembangunan bangsa merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan sinergi antara pemerintah, tokoh agama, akademisi, dan masyarakat.
Forum tersebut juga menegaskan makna generasi sehat tidak hanya terbatas pada kondisi fisik, tetapi mencakup kesehatan mental, moral, dan spiritual. Bangsa yang kuat dinilai lahir dari masyarakat yang memiliki karakter jujur, peduli, serta menjunjung nilai gotong royong.
Nasionalisme dipahami sebagai bentuk syukur atas anugerah tanah air yang dipercayakan kepada seluruh rakyat Indonesia. Karena itu, kecintaan kepada Indonesia diwujudkan melalui perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian KTN ke-63 YPPII menunjukkan adanya ruang kolaborasi antara gereja dan negara. Pemerintah berperan dalam kebijakan dan pembangunan, sedangkan gereja berkontribusi dalam pembentukan karakter, pendidikan moral, dan penguatan nilai kemanusiaan.
Jika keduanya berjalan beriringan, pembangunan tidak hanya menghasilkan masyarakat yang cerdas, tetapi juga berintegritas. KTN ke-63 YPPII menjadi pengingat Indonesia membutuhkan generasi yang kuat secara spiritual, sehat secara jasmani, cerdas secara intelektual, dan matang secara sosial.
Dengan semangat tersebut, KTN ke-63 YPPII menegaskan pesan utama pembangunan bangsa dimulai dari pembangunan manusia melalui pembentukan iman, karakter, dan kepedulian terhadap sesama.










