TVRINews, Sidoarjo
Play On Anak Krian 2 menghadirkan ruang belajar alternatif bagi anak melalui aktivitas bermain, menjelajah, bernyanyi, dan berkisah. Kegiatan bertema “Jelajah, Bermain, Berkisah” tersebut berlangsung di Balai RW 09 Krajan Stasiun, Krian, Senin, 10 Agustus 2026.
Tidak sekadar menjadi ruang bermain, kegiatan ini dirancang sebagai pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan anak. Permainan, cerita, gerak, lingkungan, dan interaksi digunakan untuk mendorong keberanian, kreativitas, komunikasi, kerja sama, serta kepedulian anak.
Play On Anak Krian 2 juga menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan anak-anak, orang tua, pemuda, relawan, komunitas, akademisi, dan pemerintah. Delapan komunitas terlibat dalam kegiatan ini, yakni Komunitas Marbot Masjid Manarul Iman Krian, Forum TBM Kabupaten Sidoarjo, Sekawan Bumi Foundation, Pepelingasih Kabupaten Sidoarjo, Nareswara Nusantara, Pemuda Lintas Dusun (PLD), Rumah Cerita Darissa, dan Jelajah Selindu.
Beragam aktivitas dihadirkan, mulai dari wood puzzle dan flash card, walking tour dan games, edukasi lingkungan, pengenalan cinta tanah air, hingga workshop mendongeng. Salah satu kegiatan edukatif dibawakan Amelia Martha, fasilitator dari Pepelingasih Kabupaten Sidoarjo. Anak-anak diajak mengenal persoalan sampah di rumah dan pohon melalui aktivitas bermain dan menggambar.
Amelia melihat antusiasme anak sebagai salah satu pengalaman menarik selama kegiatan.
“Senang banget bisa ikut Play On Anak Krian. Banyak pengalaman, cerita, dan momen seru yang didapat. Selain menambah teman, kegiatan ini juga bikin aku belajar untuk lebih aktif, kompak, dan berani berkontribusi,” ujarnya.
Dari sisi akademik, Dosen Program Studi Ilmu Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga (UNAIR), Nurul Janah, membawa aktivitas yang menanamkan kecintaan terhadap tanah air.
Anak-anak diajak bercerita tentang pengalaman mereka selama bulan Agustus, mengenal bendera dan lagu-lagu kemerdekaan, sekaligus menyampaikan cita-cita. Cita-cita mereka beragam, mulai dari guru, pemadam kebakaran, polisi wanita hingga pengusaha.
“Semangat anak-anak sangat tinggi ketika kegiatan Play On Anak Krian. Tidak hanya anak-anak, orang tua pun turut mendampingi kegiatan ini dengan penuh semangat,” kata Nurul.
Ia juga mengapresiasi kreativitas relawan yang menghadirkan pembelajaran aplikatif dan dapat dipraktikkan anak dalam kehidupan sehari-hari.
“Kegiatan ini sangat positif sekali dilakukan dengan saling berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan berbagai literasi masyarakat sesuai dengan kebutuhannya,” ujarnya.

Literasi juga dikembangkan melalui workshop mendongeng yang difasilitasi Darysha Fakhira Hidayatulloh. Materi dasar mendongeng dipadukan dengan permainan, lagu, dan gerakan. Anak-anak diajak aktif bergerak dan bernyanyi sehingga proses belajar berlangsung lebih interaktif.
“Anak-anak jauh lebih mudah menyerap suasana dan materi ketika diajak berinteraksi langsung lewat lagu dan gerakan dibandingkan hanya mendengarkan secara pasif,” ungkap Darysha.
Ia berharap kegiatan tersebut mendorong anak untuk lebih berani bercerita dan mengekspresikan imajinasinya.
“Teruslah berani bercerita dan berekspresi dengan ceria. Jangan pernah takut untuk membagikan imajinasi hebat yang kalian miliki,” pesannya.
Muhammad Azmi Rahman, pendamping program dari Forum TBM Kabupaten Sidoarjo, menilai bermain merupakan pendekatan yang paling dekat dengan dunia anak.
“Melalui bermain, anak dapat belajar tanpa merasa sedang belajar secara formal,” jelasnya.
Menurut Azmi, pendampingan dalam Play On tidak hanya mengarahkan kegiatan, tetapi juga membantu memberikan rasa aman, membangun kepercayaan diri, serta melatih kemampuan bekerja sama dan menghargai orang lain. Play On diarahkan untuk membangun kepercayaan diri, kreativitas, kemandirian, kerja sama, kepedulian, dan kemampuan berkomunikasi.
“Lebih dari sekadar kegiatan bermain, kami berharap anak-anak mendapatkan pengalaman yang berkesan dan menyadari bahwa belajar dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan,” katanya.
Dukungan terhadap keberlanjutan kegiatan disampaikan Udik Arif Muzaiyyin, Kepala Kelurahan Krian. Ia mendorong Play On Anak Krian terus dikembangkan. Pemerintah kelurahan juga siap menggerakkan organisasi maupun lembaga kemasyarakatan untuk turut mendukung kegiatan.
“Mendukung untuk terus dikembangkan,” ujar Udik.
Ia berharap kegiatan anak dan pemuda dapat ikut membentuk budaya literasi, kebersamaan, dan solidaritas dalam kehidupan sehari-hari. Play On Anak Krian 2 menunjukkan bahwa ruang belajar tidak selalu berada di dalam kelas. Melalui permainan, cerita, lingkungan, lagu, dan interaksi, anak memperoleh pengalaman yang dapat membangun keberanian, kreativitas, kepedulian, dan kemampuan bersosialisasi.
Di tengah kolaborasi komunitas, akademisi, pemuda, orang tua, relawan, dan pemerintah, “Jelajah, Bermain, Berkisah” menjadi pendekatan untuk menghadirkan ruang tumbuh bersama bagi anak-anak Krian dengan belajar yang terasa seperti bermain, dan bermain yang meninggalkan pengalaman bagi kehidupan.








